<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835</id><updated>2011-08-13T07:06:13.384-07:00</updated><category term='buku'/><category term='blogger'/><category term='SEO'/><category term='nasionalisme'/><category term='pendidikan'/><category term='puisi'/><category term='sosok'/><category term='Selfpublishing'/><category term='dongeng'/><category term='Zen'/><category term='filsafat'/><category term='tutorial'/><category term='psikologi'/><category term='video'/><category term='tips menulis'/><category term='kearifan lokal'/><category term='eksistensialisme'/><category term='budaya'/><category term='rubrik cinta'/><category term='pdf'/><category term='sastra'/><category term='WS Rendra'/><title type='text'>Toak Blog: Secangkir Kopi Hangat Pojok Kota</title><subtitle type='html'>"sebuah catatan malas."</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-3399048596738618970</id><published>2011-02-28T10:27:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T11:50:17.734-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips menulis'/><title type='text'>Tips Menulis Fiksi Ayu Utami</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ZXZdJRkDnWo/TWvn0FpHyYI/AAAAAAAAAOg/QvOAORUs0Iw/s1600/Ayu-Utami1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="211" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-ZXZdJRkDnWo/TWvn0FpHyYI/AAAAAAAAAOg/QvOAORUs0Iw/s320/Ayu-Utami1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini penulis novel Saman, Larung, Bilangan Fu, Saman, AYU UTAMI, berbagi 8 tips soal bagaimana cara menulis fiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Bagaimana menuangkan ide?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide adalah ibarat keping-keping lego atau puzel. Kumpulkanlah yang kira-kira bisa saling dipasangkan. Setelah ada beberapa keping, coba susun. Setelah mulai tersusun, biasanya kita bisa menyadari bagian mana yang belum lengkap. Lengkapilah agar menjadi utuh. Prosa yang utuh biasanya memiliki tiga bagian: pembuka, isi, dan penutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Seperti apa pembuka, isi, dan penutup baik?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuka seharusnya cukup pendek untuk menjelaskan ke mana cerita kira-kira berjalan. Dalam film, sepuluh menit pertama harus sudah bercerita tentang masalah utama kisah itu. Isi harus lebih panjang daripada pembuka dan penutup, dan harus bergerak menuju klimaks. Penutup menjelaskan penyelesaian konflik-konflik yang ada dalam isi. Biasanya ringkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita pop yang standar seperti makanan. Pembukanya segar-gurih agar kita ingin melanjutkan menu berikutnya. Santapan utamanya harus nikmat dan berisi agar kita kenyang. Penutupnya manis. Bisa juga manis dan pahit sekaligus, seperti sepotong tiramizu dan secangkir espresso.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Bagaimana membuat cerita?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide cerita boleh apa saja. Tapi, sebuah cerita yang menarik harus memiliki satu hal ini: ketegangan atau suspens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Bagaimana membangun ketegangan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ketegangan dibangun dari kemungkinan ya dan tidak. Ini cara paling gampang. Misalnya, membuat tokoh utama menginginkan sesuatu. Contoh: Pinokio ingin menjadi manusia sungguhan. Ketegangan terbangun seputar apakah Pinokio berhasil menjadi manusia, atau ia tetap boneka kayu selamanya.&lt;br /&gt;Kedua, ketegangan dibangun dari kejutan. Ini lebih sulit dari yang pertama. Sebab, untuk membuat kejutan yang mengasyikkan, penulis harus lebih dulu membangun unsur-unsur yang diperlukan. Kalau tidak, kejutan itu hanya akan menjadi kebetulan yang menjengkelkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Bagaimana mengatasi mentok-penulisan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya kita merasa jalan buntu jika kita terlalu tidak berjarak, sehingga kita tidak bisa melihat ada jalan lain. Ambillah jarak. Istirahat dan tinggalkan tulisan yang buntu itu selama beberapa hari (bisa juga beberapa pekan). Ketika menengok kembali, cobalah pakai cara pandang baru. Kembali lihat ide-ide seperti keping-keping lego atau puzel. Jangan-jangan kita memasang kombinasi yang salah. Jangan-jangan susunannya perlu diganti. Jangan-jangan ada keping yang masih harus diambil dari tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Bagaimana mengatasi kehabisan ide?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak membaca dan mendengarkan pihak lain. Enam puluh persen pekerjaan menulis adalah membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Apa betul, agar bisa menulis maka tulis saja segala yang terlintas di benak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara itu bolehlah untuk catatan harian. Untuk menghasilkan tulisan yang dibaca orang banyak, sebaliknya pikirkan apa yang dibutuhkan orang banyak (termasuk diri kita sebagai bagian dari orang banyak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. Bagaimana agar tidak takut menulis?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tidak takut, jangan terlalu memikirkan diri sendiri. Segala rasa takut datang dari terlalu banyak memikirkan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*sumber: &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ayuutami.com/"&gt;#ayuutami.com&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://indonesiabuku.com/?p=8366"&gt;#indonesiabuku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-3399048596738618970?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/3399048596738618970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2011/02/tips-menulis-fiksi-ayu-utami.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/3399048596738618970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/3399048596738618970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2011/02/tips-menulis-fiksi-ayu-utami.html' title='Tips Menulis Fiksi Ayu Utami'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ZXZdJRkDnWo/TWvn0FpHyYI/AAAAAAAAAOg/QvOAORUs0Iw/s72-c/Ayu-Utami1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-5976423819966662106</id><published>2011-02-27T11:59:00.000-08:00</published><updated>2011-02-27T12:09:33.728-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dongeng'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>TIMUN MAS PERKASA DAN RAKSASA  (recon fairy tale)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-FLTx4m2RXYs/TWqsSzDgXeI/AAAAAAAAAOQ/Jd2YQlN20OM/s1600/images.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="249" width="202" src="http://4.bp.blogspot.com/-FLTx4m2RXYs/TWqsSzDgXeI/AAAAAAAAAOQ/Jd2YQlN20OM/s320/images.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada jaman dahulu hidup seorang putri yang sangat cantik dan mempunyai kekuatan yang luar biasa. Timun Mas namanya. Bapaknya telah lama meninggal dunia. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah gubuk sederhana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timun Mas adalah sosok yang sangat baik hati. Meskipun mempunyai kekuatan layaknya Wonder Women, Timun Mas tak pernah sombong. Ia selalu menggunakan kekuatan dan kesaktiannya untuk menolong sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika Timun Mas pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Di tengah perjalannya Timun Mas dikejutkan oleh seekor anak kambing yang terkena perangkap. Tanpa pikir panjang Timun Mas kemudian melepaskan jeratan yang ada pada kaki anak kambing tersebut. Ia merobekkan sedikit jarik kumal yang ia kenakan untuk membalut luka di kaki anak kambing itu.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba “cling..!” anak kambing tersebut berubah menjadi raksasa yang sangat besar. Timun Mas terkejut sekaligus heran. “apa yang kau inginkan dariku wahai raksasa?” tanya Timun Mas dengan lembut. “aku akan memakanmu.” Jawab raksasa tersebut dengan mata merah menyala. “Bukankah tadi aku telah menolongmu dan melepaskanmu dari jeratan para pemburu?” Raksasa tersebut tiba-tiba tertawa terbahak-bahak “hahahhahaha,.. itu semua hanya tipu muslihatku wahai wanita cantik?” Mendengar omongan raksasa tersebut Timun Mas hanya tersenyum saja. Kemudian Timun Mas mengajukan sebuah tantangan kepada raksasa tersebut “Wahai raksasa yang tak tahu rasa berterimakasih. Engkau boleh memakan tubuhku dan tulang-tulangku sampai tak tersisa, tapi dengan satu syarat. Jika kau bisa mengalahkanku dalam sebuah pertandingan adu panco, engkau boleh memakanku. Tetapi jika aku menang, apakah kamu rela menjadi kambing seumur hidupmu?” Dengan membusungkan dadanya, raksasa tersebut menyetujui tantangan yang diajukan oleh Timun Mas “Baiklah! Jika aku kalah aku rela menjadi seekor kambing seumur hidupku. Terserah mau kau apakan? Mau kau bikin sate atau kau pelihara di kandang belakang rumahmu yang kumuh juga ngak masalah. Itu, jika aku kalah. Dan aku yakin aku tidak akan kalah melawan wanita lemah sepertimu.” Lalu dengan menunjukkan otot-otot yang besar dan kuat pada tangannya, raksasa tersebut tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari menjelang sore, di dalam gubuk, ibu Timun Mas sangat kuatir. Tidak biasanya Timun Mas belum pulang sampai sesore ini. Tapi ibu Timun Mas sangat yakin kalau anaknya akan baik-baik saja. “Anakku adalah perempuan yang kuat, tidak mungkin terjadi apa-apa pada dirinya.” Gumamnya dengan sedikit perasaan was-was. Kemudian terdengar sayup-sayup suara Timun Mas di depan pintu “Emak.. aku pulang!”. Mendengar anaknya telah pulang, seketika itu perasaan Ibu Timun Mas berubah gembira “dari mana saja kamu nak? Ibu dari tadi sangat mengahawatirkanmu.” Tak lama kemudian kambing yang dibawa Timun Mas dari hutan itu mengembek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-5976423819966662106?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/5976423819966662106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2011/02/timun-mas-perkasa-dan-raksasa-recon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/5976423819966662106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/5976423819966662106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2011/02/timun-mas-perkasa-dan-raksasa-recon.html' title='TIMUN MAS PERKASA DAN RAKSASA  (recon fairy tale)'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-FLTx4m2RXYs/TWqsSzDgXeI/AAAAAAAAAOQ/Jd2YQlN20OM/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-1027551723604629684</id><published>2011-02-25T12:22:00.000-08:00</published><updated>2011-02-25T12:22:29.371-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selfpublishing'/><title type='text'>Novel Relationship, Karya Adyta Purbaya (Selfpublishing)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fCQLE1LQOa8/TVLiBEaVVQI/AAAAAAAAAMI/wge1lMCbu9E/s1600/cover%2Btemplate.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 224px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fCQLE1LQOa8/TVLiBEaVVQI/AAAAAAAAAMI/wge1lMCbu9E/s320/cover%2Btemplate.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571764197002663170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Relationship (Ketika orang lain tak harus tau hubungan yang sesungguhnya)&lt;br /&gt;Penulis : Adyta Purbaya&lt;br /&gt;Penerbit : 959 Publishing House&lt;br /&gt;Harga : Rp.42.000 (belum termasuk ongkir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mana yang kalian pilih? Hubungan yang nyata atau hanya di dunia maya? Memiliki sesungguhnya atau memiliki status relationship nya di facebook? Menggandeng tangannya karena memang dia milikmu, atau menggandeng tangannya karena facebook kalian in relationship? Membiarkan orang lain menebak yang sesungguhnya terjadi atau mengumumkan semua nya padahal semu?&lt;br /&gt;Silahkan pilih sendiri hubungan yang kamu mau. Ini hatimu. Ini hidupmu. Kamu bebas tentukan mana yang kamu mau. &lt;br /&gt;Tidak butuh dengar komentar orang lain kalau kamu tidak suka. Pun tidak butuh menyebarluaskan apapun kepada orang lain. Ingat? Ini hidupmu, kawan. Kamu bebas melakukan apapun yang kamu rasa baik untuk dirimu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Relationship – suatu novel yang bercerita tentang rumit nya suatu hubungan. Ketika kehilangan baru terasa saat sudah tidak memiliki lagi. Ketika takut baru menghampiri saat kau bahkan sudah tidak punya waktu untuk meghalau ketakutan itu sendiri.&lt;br /&gt;Apa yang menarik dari novel ini? Harus kalian tahu bahwa ini hanyalah sebuah teenlit biasa. Cerita cinta remaja yang mungkin sering kalian temukan dalam kehidupan sehari-hari. Plot cerita dan alur hidup yang melulu itu-itu saja dan mungkin membuat kalian muak. Bahkan nama karakter utama yang terkesan ‘pasaran’. Tapi kalian juga harus tahu kalau novel teenlit biasa ini menawarkan ending yang mengejutkan dan luar biasa. Novel teenlit biasa ini menawarkan setting kota Palembang dengan sungai Musi nya yang indah, meski tidak membahas detail keindahan Palembang, tapi yakinlah setidaknya akan membuat kalian merasakan ‘ingin’ berkunjung ke Palembang. (Itung-itung sekalian menyukseskan program visit musi nih hahahaha)&lt;br /&gt;Jadi kenapa kalian harus membeli novel ini? Oh Tidak! tentu tidak ada paksaan untuk membeli novel ini. Kalian berhak menentukan bacaan apa yang akan kalian baca dan buku apa yang akan kalian beli, sama hal nya dengan hubungan mana yang kalian pilih. Sekali lagi ingat, kan? Ini hidup kalian. Kalian berhak menentukan mana yang terbaik buat kalian :)&lt;br /&gt;Kalau kalian penasaran, silahkan pesan ke order.adytabuku@yahoo.co.id, kalian akan mendapatkan harga khusus plus tanda tangan dan kata-kata manis di halaman pertama dari penulis nya yang juga manis. #eaaaa&lt;br /&gt;Tapi kalau kalian merasa tidak penasaran, silahkan abaikan promosi ini, anggap kalian tidak pernah membaca, dan tidak perlu membeli daripada ada umpatan kasar di belakang hari :D&lt;br /&gt;Dan kalau kalian merasa ragu. Antara penasaran dan tidak, silahkan berkunjung kesini http://adytapurbaya.blogspot.com/search/label/tentang%20relationship dan baca-baca testimonial dan beberapa komentar panjang dari pembaca yang sudah terlebih dahulu membaca relationship. Mereka tidak dibayar untuk mengomentari itu, jadi yakinlah semua komentar itu murni dari hati mereka. Jangan takut tertipu :P&lt;br /&gt;Oh iya, kalian juga bisa donlot sampel Relationship disini   : &lt;br /&gt;http://www.4shared.com/document/xOiP4r2x/Relationship.html&lt;br /&gt;ada satu bab gratis khusus untuk kalian :) Semoga menambah keyakinan kalian untuk membeli novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cara order :&lt;br /&gt;kirim email ke order.adytabuku@yahoo.co.id&lt;br /&gt;dengan format sebagai berikut :&lt;br /&gt;subjek : order buku&lt;br /&gt;di body email tulis : nama, alamat lengkap (beserta kode pos), no telp, jumlah pesanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nanti admin email akan membalas sejumlah uang yang akan di transfer, lalu buku akan meluncur kerumah kalian.&lt;br /&gt;Relationship ini tidak dijual bebas di toko buku, hanya di jual secara online ^^&lt;br /&gt;selengkapnya tentang order buku saya bisa di cek di adytapurbaya.wordpress.com  atau kalau masih butuh tanya-tanya, silahkan temui saya di casis.manis@yahoo.com atau follow twitter saya di @dheaadyta . Saya akan senang sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adyta Purbaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-1027551723604629684?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/1027551723604629684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2011/02/relationship-karya-adyta-purbaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/1027551723604629684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/1027551723604629684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2011/02/relationship-karya-adyta-purbaya.html' title='Novel Relationship, Karya Adyta Purbaya (Selfpublishing)'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fCQLE1LQOa8/TVLiBEaVVQI/AAAAAAAAAMI/wge1lMCbu9E/s72-c/cover%2Btemplate.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-443298798353121686</id><published>2009-10-04T12:55:00.000-07:00</published><updated>2009-10-04T12:55:17.833-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi'/><title type='text'>Demensia pada Usia Muda dan Produktif</title><content type='html'>Sudah menjadi pendapat umum bahwa demensia hanya terjadi pada lanjut usia (Lansia), namun kenyataannya demensia dapat terjadi pada siapa saja dan pada berbagai tingkat usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pikun dan renta bisa dikatakan sebagai bagian dari proses penuaan yang menjadi siklus hidup setiap manusia. Fenomena pikun dan renta yang dialami oleh orang lanjut usia menjadi hal yang dimaklumi dan biasa bagi kita semua. Walaupun dapat kita temui Lansia yang tidak mengalami gangguan memori, fenomena pikun ini sangat luas terjadi pada Lansia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena pikun pada usia muda dan produktif merupakan hal yang sangat menakutkan bagi kita semua. Proses ini berawal dari hal-hal kecil yang terlupakan dari jadwal harian yang berantakan, kondisi fisik yang menurun sampai akhirnya tidak sanggup lagi bekerja dan harus menghabiskan waktu dirumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengertian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna inti dari demensia pada usia muda (young onset dementia) dan demensia pada usia produktif (working onset dementia) adalah timbulnya gejala demensia berupa penurunan kognitif dan memori pada orang dengan usia dibawah 65 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Inggris menyatakan bahwa saat ini di Inggris terdapat kurang lebih 18.000 penderita demensia dengan usia di bawah 65 tahun. Data menunjukan adanya peningkatan angka demensia pada usia muda. Ditemukan kasus demensia pada usia 30-an, 40-an, dan 50 tahun bahkan beberapa pada usia di bawah 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pertiga dari total penyebab demensia ini adalah penyakit Alzheimer. Penyebab lain di antaranya adalah penyakit vaskuler, penyakit Parkinson, penyakit Pick’s, sindrom korsakoff (karena konsumsi alkohol yang berlebihan), penyakit Huntington, dan penyakit multiple sclerosis. Pada anak-anak demensia terjadi karena penyakit genetik yang salah satu gejala utamanya adalah kerusakan kognitif, contohnya sindrom down.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Karakteristik Penderita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah karakteristik khusus dari penderita demensia pada usia muda dan produktif. Pada umumnya mereka masih aktif bekerja saat diagnosis dinyatakan dan masih memiliki tanggung jawab atas anak dan keluarga. Secara fisik mereka adalah orang yang fit dan aktif. Jarangnya kasus demensia pada tingkat usia ini membuat mereka tidak bisa menerima mengapa demensia harus mereka derita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renta bukanlah karakteristik penderita demensia pada usia muda, justru kebalikannya, pada beberapa orang, demensia terjadi saat mereka merasa pada puncak kehidupannya. Pada saat itu pekerjaan dan penghasilan mereka sangat besar dibandingkan tahapan usia sebelumnya. Di kantor mereka berada pada posisi middle bahkan top manager yang dipandang oleh semua orang. Di lingkungan keluarga pun mereka menjadi figur yang dibanggakan oleh istri dan anak-anaknya. Karakteristik inilah yang menjadikan demensia pada usia muda dan produktif menjadi lebih berat dan membutuhkan perawatan yang lebih kompleks.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tanda dan Gejala&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurunnya daya ingat adalah tanda penting dari demensia. Pada kondisi normal kita terkadang lupa meletakkan kunci ataupun kacamata, namun segera dapat kita temukan kembali tanpa respon yang berlebihan. Pada penderita demensia, kasus “lupa” ini menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas. Ketika seorang demensia kehilangan kunci, kacamata atau dompet maka respon yang muncul dapat berupa panik berlebihan, menyalahkan orang lain telah mengambilnya atau memindahkan barang tersebut. Ketika benda-benda yang dicari dapat ditemukan, mungkin saja respon yang muncul berikutnya adalah mereka tidak mengerti apa kegunaan kunci, kacamata dan dompet itu, mereka kadang terlupa untuk apa mereka memerlukan benda-benda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderita demensia pada usia muda yang masih aktif bekerja seringkali melakukan kesalahan dalam jadwal kerja. Sekalipun tertulis dalam agenda, mereka dapat saja tidak hadir pada sebuah meeting karena terlupa akan jadwal tersebut. Hal ini sangat mempengaruhi performance kerja, dan bahan pembicaraan teman sekantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan orientasi waktu dan tempat seringkali dialami oleh penderita demensia. Penderita demensia pada usia muda merasa mereka masih mampu melakukan segala hal, didukung fisik yang kuat, mereka sering kali tidak menghiraukan gejala demensia ini. Mengemudi mobil adalah sebuah kebiasaan yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun, mereka tidak pernah mengalami kecelakaan ataupun hal-hal lain yang membahayakan. Ketika demensia terjadi mereka dapat dengan tiba-tiba terlupa kemana mereka akan pergi dan sedang berada dimana saat itu, terkadang mereka tersesat di jalan yang setiap harinya mereka lalui. Hal ini tentu sangat berbahaya mengingat mereka sedang mengemudi mobil di jalan raya yang ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali juga adalah tanda dari demensia. Penurunan kemampuan berbahasa ini sangat berpengaruh pada pekerjaan yang banyak menuntut komunikasi dengan orang lain, salah paham sering kali terjadi akibat penggunaan kata yang kurang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi yang berlebihan juga ditunjukkan oleh orang dengan demensia. Mereka akan menangis berlebihan saat melihat sebuah drama televisi, begitu pula akan marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain. Penderitapun kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul seperti: rasa takut dan gugup yang tidak jelas penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian berat apa yang dialami oleh penderita demensia, terutama pada usia yang masih muda dan produktif untuk bekerja. Perjalanan penyakit ini sangatlah lambat dan kadang tidak dirasakan baik oleh penderita maupun orang-orang di sekitarnya. Dampak demensia tidak hanya akan mengenai pada penderita seorang saja, melainkan keluarga dan orang-orang terdekat juga akan merasakannya. Kenalilah tanda dan gejala demensia sejak awal dan jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan ke Rumah Sakit (RS). Serangkaian test akan dilakukan untuk mendiagnosa anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berat sekali menerima kenyataan bahwa kita atau orang yang kita kenal dan sayangi terkena penyakit ini. Namun menyerah begitu saja bukan pula menjadi sebuah solusi. Sedari dini mengetahui penyakit dan melakukan perawatan yang tepat dapat memperlambat proses kerusakan otak yang dialami oleh penderita demensia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai hal masih dapat disiasati agar kehidupan sosial para penderita demensia ini tidak berhenti seiring dengan vonis demensia yang diderita. Dimulai dengan membuat catatan detail aktivitas sehari-hari, meletakkan barang selalu pada tempatnya, memberikan petunjuk penggunaan pada setiap barang dan menggunakan tanda pengenal ketika akan pergi jauh tanpa teman. Hal-hal yang telah disebutkan tadi dapat dilakukan dengan dukungan penuh dari seluruh keluarga. Pengertian harus diberikan sejak awal kepada keluarga terutama anak-anak, sehingga kebersamaan dalam menghadapai kenyataan demensia akan lebih ringan bagi penderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga sebagai support terpenting bagi penderita demensia akan dapat lebih berempati dengan mempelajari lebih dalam tentang demensia. Berusaha untuk selalu tetap tenang dan sabar dalam menghadapi penderita, mencurahkan kasih sayang dan berusaha memahami apa yang dirasakan penderita dapat sangat membantu dalam perawatan penderita demensia. Perlakukan penderita demensia sebagaimana biasa, tetap hormati dan usahakan untuk tidak berdebat dengan penderita. Bantu mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang lambat laun akan mengalami penurunan. Jelaskan kondisi penderita pada setiap tamu atau teman yang datang agar mereka dapat ikut mendukung perawatan penderita.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pencegahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan saat ini demensia belum dapat disembuhkan, pengobatan dan perawatan yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi tanda dan gejala serta mengoptimalkan kemampuan yang masih dimiliki, hal ini diharapakan dapat menurunkan laju kerusakan otak yang dialami penderita demensia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia diantaranya adalah dengan menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak. Secara teknis dua hal diatas dapat kita lakukan dengan mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alcohol dan zat adiktif yang berlebihan kedalam system tubuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengoptimalkan fungsi otak dengan membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif salah satunya dapat dengan memperdalam ilmu agama. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Sumber: &lt;a href="http://www.kamusilmiah.com/kesehatan/demensia-pada-usia-muda-dan-produktif/"&gt;kamusilmiah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-443298798353121686?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/443298798353121686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/10/demensia-pada-usia-muda-dan-produktif.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/443298798353121686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/443298798353121686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/10/demensia-pada-usia-muda-dan-produktif.html' title='Demensia pada Usia Muda dan Produktif'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-196838344719491788</id><published>2009-09-13T12:53:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T12:53:40.068-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='eksistensialisme'/><title type='text'>Tokoh Utama dalam Novel Kematian yang Tertunda Karya Jean Paul Sartre (Kajian Filsafat Eksistensialisme)</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="View Analisis Tokoh Utama Dalam Novel Kematian Yang Tertunda Karya Jean Paul Sartre (Kajian Eksistensialisme on Scribd" href="http://www.scribd.com/doc/19711884/Analisis-Tokoh-Utama-Dalam-Novel-Kematian-Yang-Tertunda-Karya-Jean-Paul-Sartre-Kajian-Eksistensialisme" style="margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;"&gt;Analisis Tokoh Utama Dalam Novel Kematian Yang Tertunda Karya Jean Paul Sartre (Kajian Eksistensialisme&lt;/a&gt; &lt;object codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=9,0,0,0" id="doc_906395043467150" name="doc_906395043467150" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" align="middle" height="500" width="100%" &gt;  &lt;param name="movie" value="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf?document_id=19711884&amp;access_key=key-23cvez5gluf4qpx5qj7g&amp;page=1&amp;version=1&amp;viewMode="&gt;&lt;param name="quality" value="high"&gt;&lt;param name="play" value="true"&gt;&lt;param name="loop" value="true"&gt;&lt;param name="scale" value="showall"&gt;&lt;param name="wmode" value="opaque"&gt;&lt;param name="devicefont" value="false"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#ffffff"&gt;&lt;param name="menu" value="true"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowScriptAccess" value="always"&gt;&lt;param name="salign" value=""&gt;&lt;embed src="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf?document_id=19711884&amp;access_key=key-23cvez5gluf4qpx5qj7g&amp;page=1&amp;version=1&amp;viewMode=" quality="high" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" play="true" loop="true" scale="showall" wmode="opaque" devicefont="false" bgcolor="#ffffff" name="doc_906395043467150_object" menu="true" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" salign="" type="application/x-shockwave-flash" align="middle"  height="500" width="100%"&gt;&lt;/embed&gt; &lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-196838344719491788?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/196838344719491788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/tokoh-utama-dalam-novel-kematian-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/196838344719491788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/196838344719491788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/tokoh-utama-dalam-novel-kematian-yang.html' title='Tokoh Utama dalam Novel Kematian yang Tertunda Karya Jean Paul Sartre (Kajian Filsafat Eksistensialisme)'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-1113766162708595208</id><published>2009-09-11T13:37:00.000-07:00</published><updated>2009-09-11T14:00:53.225-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>[Roman] Di Bawah Lindungan Ka'bah - Hamka [pdf]</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="View Di Bawah Lindungan Ka'Bah on Scribd" href="http://www.scribd.com/doc/15715771/Di-Bawah-Lindungan-KaBah" style="margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;"&gt;Di Bawah Lindungan Ka'Bah&lt;/a&gt; &lt;object codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=9,0,0,0" id="doc_471954048132295" name="doc_471954048132295" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" align="middle" height="500" width="100%" &gt;  &lt;param name="movie" value="http://d.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=15715771&amp;access_key=key-28wd5j06fvautwyyrfwt&amp;page=1&amp;version=1&amp;viewMode="&gt;&lt;param name="quality" value="high"&gt;&lt;param name="play" value="true"&gt;&lt;param name="loop" value="true"&gt;&lt;param name="scale" value="showall"&gt;&lt;param name="wmode" value="opaque"&gt;&lt;param name="devicefont" value="false"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#ffffff"&gt;&lt;param name="menu" value="true"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowScriptAccess" value="always"&gt;&lt;param name="salign" value=""&gt;&lt;embed src="http://d.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=15715771&amp;access_key=key-28wd5j06fvautwyyrfwt&amp;page=1&amp;version=1&amp;viewMode=" quality="high" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" play="true" loop="true" scale="showall" wmode="opaque" devicefont="false" bgcolor="#ffffff" name="doc_471954048132295_object" menu="true" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" salign="" type="application/x-shockwave-flash" align="middle"  height="500" width="100%"&gt;&lt;/embed&gt; &lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-1113766162708595208?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/1113766162708595208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/roman-di-bawah-lindungan-kabah-hamka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/1113766162708595208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/1113766162708595208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/roman-di-bawah-lindungan-kabah-hamka.html' title='[Roman] Di Bawah Lindungan Ka&apos;bah - Hamka [pdf]'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-2769441322096464209</id><published>2009-09-09T13:43:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T12:03:13.245-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kearifan lokal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Wayang Krucil Bojonegoro Hampir Punah</title><content type='html'>Bojonegoro - Kesenian wayang Krucil di Bojonegoro, Jawa Timur, hampir punah karena dalang dan seniman pembuat wayang Krucil di Bojonegoro kini semakin langka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Sudah 30 tahun lebih tidak ada pergelaran wayang Krucil di masyarakat," kata pimpinan sanggar seni Widoro Kandang Bojonegoro, Ki Djoko kepada ANTARA di Bojonegoro, Selasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyatakan sudah 30 tahun tidak lagi menyaksikan pergelaran wayang Krucil di Bojonegoro dan juga di daerah sekitarnya seperti Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, katanya, lakon dan teknis pementasan wayang Krucil sama dengan wayang kulit, karena bentuk wayang krucil memang mengadopsi ketokohan dalam wayang Kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya, wayang kulit terbuat dari kulit sedangkan wayang Krucil dibuat dari kayu, biasanya kayu randu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah 30 tahun ini, saya tidak tidak tahu, ada dalang wayang Krucil di Bojonegoro. Seniman pembuat wayang Krucil memang ada yaitu Pak Santoso, dia juga seniman pembuat wayang Tengul," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ki Djoko, sekitar 30 tahun yang lalu pementasan wayang Krucil masih dijumpai. Pengundangnya bukan masyarakat melainkan aparat desa dalam rangka memeriahkan gotong royong yang biasa disebut "bersih desa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Djoko mengaku semasa dirinya menjabat sebagai Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Bojonegoro, di era 1980-an hingga tahun 1995, pernah berusaha mementaskan pergelaran wayang Krucil dengan mengambil dalang di wilayah Kecamatan Tambakrejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi pergelaran itu selalu batal. Alasannya, keyakinan para dalang wayang Krucil untuk menghindari bencana harus berjalan kaki dari lokasi tinggal hingga lokasi pentas yang dilakukan mulai dari pengrawit, dalang, hingga wayangnya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Djoko mengaku kesenian wayang Krucil yang disebut-sebut kesenian khas Bojonegoro selain wayang Tengul sekarang ini mendekati punah, baik dalang yang menekuni juga seniman pembuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena itu, saya berharap semua pihak cepat-cepat menangani, terutama pemerintah daerah. Kalau tidak, saya yakin dalam beberapa tahun lagi, Bojonegoro akan kehilangan sebuah kesenian khas," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bojonegoro, wayang Krucil bisa dijumpai di Museum Rajekwesi yang berada di kompleks Kantor Diknas Bojonegoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penjaga Museum Rajekwesi dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Mojokerto, Agus Sunarno, enam wayang Krucil yang tersimpan di museum selama ini sering keluar museum untuk pameran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena terkena hujan akibat gedung museum bocor, enam wayang Krucil itu banyak yang patah," katanya.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*sumber: &lt;a href="http://www.infogue.com/viewstory/2008/06/25/wayang_krucil_bojonegoro_hampir_punah/?url=http://antara.co.id/arc/2008/6/24/wayang-krucil-bojonegoro-hampir-punah"&gt;antara&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-2769441322096464209?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/2769441322096464209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/bojonegoro-kesenian-wayang-krucil-di.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/2769441322096464209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/2769441322096464209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/bojonegoro-kesenian-wayang-krucil-di.html' title='Wayang Krucil Bojonegoro Hampir Punah'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-3199259140764668722</id><published>2009-09-09T12:01:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T12:04:07.365-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi'/><title type='text'>Tipe-Tipe Kepribadian</title><content type='html'>Dalam ilmu psikologi, dikenal teori 4 tipe kepribadian. Teori ini dikenalkan pertama kali oleh Galen, seorang ahli fisiologi yang hidup pada abad ke-2 Masehi. Walaupun tipe ini dianggap kuno, tetapi masih digunakan oleh psikolog-psikolog di jaman modern ini. Tipe-tipe tersebut adalah Kholeris, Sanguinis, Melankolis dan Plegmatis. Dari 4 tipe kepribadin ini, tiap orang mempunyai kombinasi dari dua kepribadian.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kholeris&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan:&lt;br /&gt;Tipe ini berbakat menjadi pemimpin. Suka berprestasi dan mengorganisasikan. Hidupnya berorientasi pada tujuan, aktif dan dinamis. Berkemauan keras dan tidak mudah putus asa. Tidak menyukai air mata dan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan:&lt;br /&gt;Orang bertipe koleris terlalu bersemangat, suka memerintah dan tidak sabaran, keras kepala dan kaku. Menyukai kontroversi dan pertengkaran, tidak mau menyerah kalau kalah. Tidak simpatik/kurang peka terhadap perasaan orang lain. Suka merasa benar sendiri. Mendominasi orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sanguinis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan:&lt;br /&gt;Kepribadian yang menyenangkan, ceria, supel, suka bicara dan bercerita. Punya selera humor yang baik. Emosional dan demonstratif. Antusias dan ekspresif. Optimis, Penuh rasa ingin tahu. Berhati tulus, tidak menyimpan dendam dan cepat meminta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan:&lt;br /&gt;Mendominasi percakapan dan suka membesar-besarkan, egoistis, suka mengeluh, kekanak-kanakan, tidak pernah dewasa. Mudah marah/emosional. Sensitif terhadap yang dikatakan orang tentang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Melankolis (Perfeksionis)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan:&lt;br /&gt;Perfeksionis, standar tinggi. Cenderung diam dan pemikir sehingga membutuhkan ruang dan ketenangan supaya bisa berpikir dan melakukan sesuatu. Serius dan bertujuan. Analitis. Berbakat dan kreatif. Berfilsafat dan puitis. Bijaksana, Idealis.  Serba tertib dan hati-hati. Rapi dalam perencanaan, hemat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan:&lt;br /&gt;Mengingat yang negatif dan menikmati sakit hati. Citra diri rendah dan merendahkan diri sendiri. Standar suka terlalu tinggi. Sangat memerlukan persetujuan. Mementingkan diri sendiri. Terlalu instropektif. Tertekan karena ketidaksempurnaan.  Tidak mudah memaafkan dan penuh kontradiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Phlegmatis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan:&lt;br /&gt;Kadang tipe ini dipandang sebagai orang yang lamban. Sebenarnya bukan karena ia kurang cerdas, tapi justru karena ia lebih cerdas dari yang lain. Mudah bergaul dan santai. Mudah diajak rukun dan menyenangkan. Tenang, teguh, sabar dan seimbang. Hidup konsisten. Tidak banyak cakap tetapi bijaksana. Simpatik dan baik hati. Menyembunyikan emosi. Hidupnya penuh tujuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan:&lt;br /&gt;Terlalu pemalu dan tidak banyak bicara. Tidak suka keramaian. Suka takut dan kawatir. Mementingkan diri sendiri dan suka merasa benar sendiri. Tidak antusias. Suka menilai orang lain. Suka menunda-nunda sesuatu. Kurang disiplin dan motivasi diri. Malas dan tidak peduli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-3199259140764668722?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/3199259140764668722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/tipe-tipe-kepribadian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/3199259140764668722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/3199259140764668722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/tipe-tipe-kepribadian.html' title='Tipe-Tipe Kepribadian'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-5582629791559060340</id><published>2009-09-08T14:55:00.000-07:00</published><updated>2009-09-11T03:21:12.161-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pdf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi'/><title type='text'>Kecemasan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="View kecemasan on Scribd" href="http://www.scribd.com/doc/19546358/kecemasan" style="margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;"&gt;kecemasan&lt;/a&gt; &lt;object codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=9,0,0,0" id="doc_247024724275325" name="doc_247024724275325" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" align="middle" height="500" width="100%" &gt;  &lt;param name="movie" value="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf?document_id=19546358&amp;access_key=key-puhdo1i7yzpleeg8npi&amp;page=1&amp;version=1&amp;viewMode="&gt;&lt;param name="quality" value="high"&gt;&lt;param name="play" value="true"&gt;&lt;param name="loop" value="true"&gt;&lt;param name="scale" value="showall"&gt;&lt;param name="wmode" value="opaque"&gt;&lt;param name="devicefont" value="false"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#ffffff"&gt;&lt;param name="menu" value="true"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowScriptAccess" value="always"&gt;&lt;param name="salign" value=""&gt;&lt;embed src="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf?document_id=19546358&amp;access_key=key-puhdo1i7yzpleeg8npi&amp;page=1&amp;version=1&amp;viewMode=" quality="high" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" play="true" loop="true" scale="showall" wmode="opaque" devicefont="false" bgcolor="#ffffff" name="doc_247024724275325_object" menu="true" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" salign="" type="application/x-shockwave-flash" align="middle"  height="500" width="100%"&gt;&lt;/embed&gt; &lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-5582629791559060340?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/5582629791559060340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/kecemasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/5582629791559060340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/5582629791559060340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/kecemasan.html' title='Kecemasan'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-2701527287109876363</id><published>2009-09-08T11:08:00.000-07:00</published><updated>2009-09-08T11:11:03.143-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Zen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Daging Zen Tulang Zen</title><content type='html'>&lt;b&gt;MENEMUKAN SEBUTIR BERLIAN DI JALAN BERLUMPUR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gudo adalah pengajar istana pada masanya. Walaupun  demikian,&lt;br /&gt;ia  seringkali  berkelana sendirian sebagai seorang pengemis&lt;br /&gt;yang tidak berumah. Suatu ketika dalam perjalanannya ke Edo,&lt;br /&gt;pusat budaya dan politik kerajaan, ia singgah di sebuah desa&lt;br /&gt;kecil bernama Takenaka. Saat itu telah malam dan hujan turun&lt;br /&gt;dengan  derasnya.  Tubuh  Gudo  basah  kuyup. Sandalnya yang&lt;br /&gt;terbuat dari jerami menjadi  rusak  dan  hancur.  Di  sebuah&lt;br /&gt;rumah  gubuk  ke  desa  itu,  ia melihat ada empat atau lima&lt;br /&gt;pasang sandal di jendela, dan ia  memutuskan  untuk  membeli&lt;br /&gt;beberapa pasang sandal yang kering itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wanita  yang  menjual  sandal tersebut, melihat betapa basah&lt;br /&gt;kuyupnya dia, mengundangnya untuk bermalam di rumahnya. Gudo&lt;br /&gt;menerima  tawaran wanita itu, dan berterima kasih kepadanya.&lt;br /&gt;Ia pun masuk ke dalam  rumah  tersebut  dan  membaca  sebuah&lt;br /&gt;sutra  di  depan  altar.  Ia  kemudian dikenalkan kepada ibu&lt;br /&gt;wanita tersebut,  dan  kepada  anak-anaknya.  Melihat  bahwa&lt;br /&gt;anggota keluarga tersebut mengalami depresi, Gudo menanyakan&lt;br /&gt;apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suami saya adalah seorang penjudi dan pemabuk,"  ibu  rumah&lt;br /&gt;tangga  itu menjelaskan. "Jika menang, ia akan mabuk-mabukan&lt;br /&gt;dan bertindak semena-mena. Bila kalah, ia akan meminjam uang&lt;br /&gt;dari  orang  lain. Kadang-kadang jika ia sedang mabuk berat,&lt;br /&gt;ia bahkan  tidak  pulang  ke  rumah.  Apa  yang  harus  saya&lt;br /&gt;lakukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya  akan  menolongnya," kata Gudo. "Ini ada sedikit uang.&lt;br /&gt;Tolong belikan saya sebotol arak  dan  makanan  yang  lezat.&lt;br /&gt;Lalu,  anda  boleh  beristirahat.  Saya  akan bermeditasi di&lt;br /&gt;depan altar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kepala rumah tangga itu pulang di tengah malam, dalam&lt;br /&gt;keadaan  mabuk,  ia  berteriak,  "Hai,  isteriku, saya sudah&lt;br /&gt;pulang. Apakah kamu mempunyai makanan untukku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mempunyai sesuatu untukmu," kata  Gudo.  "Saya  hampir&lt;br /&gt;terperangkap  hujan  dan  isteri anda menawarkan kepada saya&lt;br /&gt;menginap malam ini. Sebagai balasan rasa terima kasih,  saya&lt;br /&gt;membelikan  sedikit arak dan lauk-pauk, jadi anda boleh saja&lt;br /&gt;memakannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu kelihatan gembira. Ia dengan seketika meneguk  arak&lt;br /&gt;itu   dan   membaringkan  tubuhnya  di  lantai.  Gudo  duduk&lt;br /&gt;bermeditasi di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada keesokan pagi, ketika pria itu terbangun dari tidurnya,&lt;br /&gt;ia  lupa  akan  kejadian  tadi  malam.  "Siapakah anda? Dari&lt;br /&gt;manakah  anda  berasal?"  ia  menanyai  Gudo,  yang   sedang&lt;br /&gt;bermeditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya  adalah  Gudo dari Kyoto, dan saya akan pergi ke Edo,"&lt;br /&gt;jawab guru Zen itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria  itu  merasa  sangat  malu.  Ia   meminta   maaf   yang&lt;br /&gt;sebesar-besarnya kepada pengajar istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gudo  tersenyum.  "Segala  sesuatu  dalam hidup ini tidaklah&lt;br /&gt;kekal," ia menjelaskan. "Hidup sangatlah singkat. Jika  anda&lt;br /&gt;terus-menerus  berjudi  dan  mabuk-mabukan,  anda tidak akan&lt;br /&gt;mempunyai waktu yang tersisa untuk melakukan  kegiatan  yang&lt;br /&gt;lain,  dan  dengan demikian anda akan menyiksa keluarga anda&lt;br /&gt;juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan si kepala rumah  tangga  itu  terbuka  seakan-akan&lt;br /&gt;terjaga  dari  mimpi.  "Anda  benar," ia mengaku. "Bagaimana&lt;br /&gt;saya  harus  membayar  untuk  ajaran  anda  yang  sedemikian&lt;br /&gt;berharga  ini!  Marilah  saya  antarkan  anda  dan  membantu&lt;br /&gt;membawakan barang-barang  anda  hingga  sebagian  perjalanan&lt;br /&gt;anda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika anda menginginkannya," Gudo mengijinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang itu mulai berjalan. Setelah berjalan sejauh tiga&lt;br /&gt;mil Gudo menyuruhnya untuk kembali pulang. "Biarlah lima mil&lt;br /&gt;lagi,"  ia  memohon  kepada  Gudo.  Mereka  pun  melanjutkan&lt;br /&gt;perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anda boleh kembali sekarang," Gudo menyarankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti, setelah sepuluh mil lagi," jawab pria itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kembalilah sekarang," kata Gudo,  pada  saat  mereka  telah&lt;br /&gt;melewati jarak sejauh sepuluh mil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya  akan  mengikuti  anda  selama sisa waktu hidup saya,"&lt;br /&gt;ungkap pria tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para  guru  modern  Zen  di  Jepang  bersumber  dari   garis&lt;br /&gt;keturunan seorang guru terkenal yang merupakan penerus Gudo.&lt;br /&gt;Namanya ialah Mu-nan, pria  yang  tidak  pernah  kembali  ke&lt;br /&gt;rumahnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DIALOG PERDAGANGAN UNTUK MENGINAP&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asalkan memajukan dan memenangkan sebuah argumentasi tentang&lt;br /&gt;agama  Buddha  dengan  orang-orang  yang  tinggal  di  sana,&lt;br /&gt;seorang  bhikshu kelana boleh menginap di sebuah vihara Zen.&lt;br /&gt;Jika kalah, ia harus pergi dan melanjutkan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah vihara di belahan  utara  Jepang,  tinggallah  dua&lt;br /&gt;orang  bhikshu.  Yang  lebih  tua adalah seorang terpelajar,&lt;br /&gt;sedangkan yang lebih  muda  adalah  orang  bodoh  dan  hanya&lt;br /&gt;mempunyai sebuah mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang   bhikshu   datang   dan   memohon  untuk  menginap.&lt;br /&gt;Sebagaimana biasanya, ia  menantang  mereka  untuk  berdebat&lt;br /&gt;tentang  ajaran  yang  tertinggi.  Saudara  yang  lebih tua,&lt;br /&gt;karena keletihan belajar sepanjang hari itu, meminta saudara&lt;br /&gt;mudanya   untuk   menggantikannya.   "Pergilah   dan  hadapi&lt;br /&gt;dialognya dengan tenang," ia memperingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, bhikshu muda dan orang asing itu pergi ke altar&lt;br /&gt;dan duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  lama  kemudian, pendatang itu bangkit dan menghampiri&lt;br /&gt;saudara tua dan berkata, "Saudara muda anda  adalah  seorang&lt;br /&gt;yang mengagumkan. Ia mengalahkan aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ceritakan dialog itu kepadaku," kata saudara yang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah,"   jelas   si   pendatang,   "Pertama-tama,   saya&lt;br /&gt;mengacungkan  sebuah  jari,  melambangkan  Buddha,  Ia  yang&lt;br /&gt;mencapai   Pencerahan.   Ia   pun   mengacungkan  dua  jari,&lt;br /&gt;melambangkan Buddha beserta ajaran Beliau. Saya mengacungkan&lt;br /&gt;tiga jari, melambangkan Buddha, ajaran, dan pengikut Beliau,&lt;br /&gt;yang hidup  dalam  keharmonisan.  Kemudian,  ia  melayangkan&lt;br /&gt;kepalan   tinjunya   ke   wajah   saya,   menunjukkan  bahwa&lt;br /&gt;ketiga-tiganya berasal dari kebijaksanaan.  Demikianlah  dia&lt;br /&gt;menang  dan  saya tidak berhak untuk menetap. " Setelah itu,&lt;br /&gt;si pendatang pun pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemanakah rekan itu?" tanya saudara muda, berlari menjumpai&lt;br /&gt;saudara tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tahu anda memenangkan perdebatan tadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menang apa! Saya ingin memukulnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ceritakanlah  tentang  perdebatan  tadi," pinta saudara tua&lt;br /&gt;itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa, begitu melihat saya, ia  mengacungkan  satu  jari,&lt;br /&gt;menghina  saya  dengan  menyindir bahwa saya hanya mempunyai&lt;br /&gt;sebuah mata. Oleh karena ia adalah pendatang, saya kira saya&lt;br /&gt;harus    bertindak    sopan   terhadapnya,   sehingga   saya&lt;br /&gt;mengacungkan dua jari, bersyukur  baginya  karena  mempunyai&lt;br /&gt;dua   mata.   Kemudian,   bedebah   yang   tidak  sopan  itu&lt;br /&gt;mengacungkan tiga jari, menyiratkan  bahwa  di  antara  kita&lt;br /&gt;berdua  hanya ada tiga bola mata. Oleh karenanya, saya marah&lt;br /&gt;dan  mulai  meninjunya,  tetapi  ia   berlari   keluar   dan&lt;br /&gt;perdebatan itu pun berakhir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(baca cerita sejenis dari tradisi Islam dan Kristiani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MENGAJARKAN YANG TERPENTING&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman dahulu di Jepang, lentera yang terbuat dari bambu&lt;br /&gt;dan  kertas,  serta  lilin  di  dalamnya  banyak  digunakan.&lt;br /&gt;Seorang  buta,  yang  mengunjungi  temannya   suatu   malam,&lt;br /&gt;ditawarkan sebuah lentera untuk dibawa pulang ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya  tidak  butuh  lentera,"  katanya.  "Gelap atau terang&lt;br /&gt;adalah sama saja bagi saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tahu bahwa anda tidak memerlukan lentera untuk melihat&lt;br /&gt;jalan,"  jawab temannya, "Tetapi jika anda tidak membawanya,&lt;br /&gt;orang lain mungkin akan  menabrak  anda.  Jadi,  anda  harus&lt;br /&gt;membawanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang  buta itu mulai berjalan dengan lenteranya dan sebelum&lt;br /&gt;ia  berjalan  terlalu  jauh,  seseorang  menabrak   dirinya.&lt;br /&gt;"Lihatlah  jalan  yang  akan anda tuju!" ia berteriak kepada&lt;br /&gt;orang asing itu, "Tidak bisakah kamu melihat lentera ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lilin anda telah habis, Saudara" jawab orang asing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PIKIRAN BATU&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hogen,  seorang  guru  Zen  dari  China,  hidup sendirian di&lt;br /&gt;sebuah vihara kecil di sebuah desa. Suatu hari, empat  orang&lt;br /&gt;bhikshu  kelana  datang  dan  bertanya  apakah  mereka boleh&lt;br /&gt;menyalakan   api   unggun   di   halaman   viharanya   untuk&lt;br /&gt;menghangatkan tubuh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika  mereka  sedang  membuat  api unggun, Hogen mendengar&lt;br /&gt;mereka   sedang   bertengkar   tentang   subyektivitas   dan&lt;br /&gt;obyektivitas. Ia pun bergabung dan berkata, "Ada sebuah batu&lt;br /&gt;besar. Apakah anda menganggapnya berada  di  dalam  atau  di&lt;br /&gt;luar pikiran anda?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah  seorang  bhikshu  itu  menjawab,  "Dari sudut pandang&lt;br /&gt;agama Buddha segala sesuatu adalah obyek dari pikiran,  jadi&lt;br /&gt;saya bisa katakan bahwa batu itu ada di dalam pikiran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kepala  anda  pastilah  berat  sekali,"  demikian  pendapat&lt;br /&gt;Hogen, "Jika anda membawa bawa batu  seperti  itu  di  dalam&lt;br /&gt;pikiran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PRIA CHINA YANG BERBAHAGIA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang yang berjalan-jalan di pecinan di Amerika  akan&lt;br /&gt;melihat  patung seorang pria gemuk yang membawa karung goni.&lt;br /&gt;Para pedagang China menyebutnya Pria China  yang  Berbahagia&lt;br /&gt;atau Buddha Tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotei  hidup  pada masa Dinasti T'ang. Ia tidak berkeinginan&lt;br /&gt;untuk menyebutkan dirinya  sendiri  seorang  guru  Zen  atau&lt;br /&gt;mengumpulkan   banyak   murid.  Sebaliknya,  ia  berkeliaran&lt;br /&gt;sepanjang jalan dengan membawa sebuah karung besar  yang  di&lt;br /&gt;dalamnya  berisi hadiah berupa permen, buah-buahan, dan kue.&lt;br /&gt;Inilah yang  akan  ia  bagi-bagikan  kepada  anak-anak  yang&lt;br /&gt;bermain-main  mengelilinginya.  Ia  membentuk  sekolah taman&lt;br /&gt;kanak-kanak di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia berjumpa dengan  seorang  penganut  Zen,  ia  akan&lt;br /&gt;menjulurkan  tangannya  dan  berkata, "Berikan saya sekeping&lt;br /&gt;uang." Dan jika seseorang mengatakan kepadanya untuk kembali&lt;br /&gt;ke  vihara  dan mengajarkan orang-orang, sekali lagi ia akan&lt;br /&gt;menjawab, "Berikan saya sekeping uang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, saat ia sedang menjalankan  tugas  bermainnya,&lt;br /&gt;seorang  guru  Zen  lain  berpapasan dengannya dan bertanya,&lt;br /&gt;"Apakah yang penting dalam Zen?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotei langsung menjatuhkan karungnya ke  tanah  dan  berdiam&lt;br /&gt;diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu,"  tanya orang tersebut, "Apakah yang ditunjukkan oleh&lt;br /&gt;Zen?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  segera,  Pria  China  yang  Berbahagia   mengayunkan&lt;br /&gt;karungnya ke bahunya dan melanjutkan perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TIDAK BEKERJA, TIDAK ADA MAKANAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hyakujo,  seorang  guru  Zen  berkebangsaan  China, terbiasa&lt;br /&gt;bekerja beserta dengan murid-muridnya  bahkan  pada  usianya&lt;br /&gt;yang  sudah  delapan  puluh  tahun,  memangkas rumput taman,&lt;br /&gt;membersihkan halaman, dan merapikan tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para muridnya merasa tidak tega  melihat  guru  mereka  yang&lt;br /&gt;telah  tua  renta  masih  bekerja  berat, tetapi mereka tahu&lt;br /&gt;bahwa guru mereka  tidak  akan  mendengarkan  nasihat  untuk&lt;br /&gt;berhenti  bekerja,  sehingga  mereka menyembunyikan perkakas&lt;br /&gt;kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari itu, guru  mereka  tidak  makan.  Hari  berikutnya&lt;br /&gt;juga,  dan  demikian  pula dengan keesokan harinya lagi. "Ia&lt;br /&gt;mungkin  marah  karena  kita  menyimpan  perkakasnya,"  duga&lt;br /&gt;murid-muridnya.  "Sebaiknya kita kembalikan lagi perkakasnya&lt;br /&gt;itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mereka mengembalikannya, guru mereka kembali bekerja&lt;br /&gt;dan  makan  sebagaimana  sebelumnya.  Pada  malam  hari,  ia&lt;br /&gt;menginstruksikan mereka, "Tidak bekerja, tidak ada makanan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;JIKA ANDA MENCINTAI, CINTAILAH DENGAN SIKAP TERBUKA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh bhikshu dan seorang bhikshuni, yang bernama Eshun,&lt;br /&gt;sedang berlatih meditasi pada seorang guru Zen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eshun  kelihatan  sangat  cantik  walaupun rambutnya dicukur&lt;br /&gt;habis dan  pakaiannya  sederhana.  Beberapa  bhikshu  secara&lt;br /&gt;diam-diam  jatuh  cinta  kepadanya.  Salah seorang di antara&lt;br /&gt;mereka menuliskan surat cinta kepadanya, memohon agar mereka&lt;br /&gt;bertemu berduaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eshun  tidak  membalasnya.  Pada  hari  berikutnya,  si guru&lt;br /&gt;memberikan khotbah  kepada  kelompok  tersebut,  dan  ketika&lt;br /&gt;khotbah  itu  telah  selesai,  Eshun berdiri. Dengan menatap&lt;br /&gt;pada orang yang menulis surat kepadanya, ia  berkata,  "Jika&lt;br /&gt;anda  benar-benar  mencintai  saya, datang dan peluklah saya&lt;br /&gt;sekarang juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KIKIR DALAM AJARAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang  dokter  muda  di  Tokyo yang bernama Kusuda bertemu&lt;br /&gt;dengan teman sekolahnya yang telah mempelajari  Zen.  Dokter&lt;br /&gt;muda itu menanyakan apakah Zen itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya  tidak  bisa  mengatakan  kepada anda apakah Zen itu,"&lt;br /&gt;temannya menjawab, "Tetapi satu hal yang  pasti.  Jika  anda&lt;br /&gt;memahami Zen, anda tidak akan takut untuk mati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah,  "  kata  Kusuda. "Saya akan mencobanya. Dimanakah&lt;br /&gt;saya bisa mendapatkan seorang guru?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pergilah   ke   Guru   Nan-in,"   temannya   memberitahukan&lt;br /&gt;kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh  sebab  itu  Kusuda  pergi menjumpai Nan-in. Ia membawa&lt;br /&gt;sebuah pisau belati yang panjangnya sembilan  setengah  inci&lt;br /&gt;untuk  mengetahui  apakah  guru itu takut akan kematian atau&lt;br /&gt;tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Nan-in melihat Kusuda, ia berseru, "Hai,  teman.  Apa&lt;br /&gt;kabar?  Sudah  lama kita tidak berjumpa!" Ini membuat Kusuda&lt;br /&gt;bingung,  lalu  ia  menjawab,  "Kita  belum  pernah  bertemu&lt;br /&gt;sebelumnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar,"  Nan-in  menjawab,  "Saya  kira anda adalah seorang&lt;br /&gt;dokter yang belajar di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sikap pembuka yang  seperti  ini,  Kusuda  kehilangan&lt;br /&gt;kesempatan  untuk  menguji  si guru, sehingga dengan malu ia&lt;br /&gt;memohon untuk diberikan instruksi Zen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nan-in mengatakan, "Zen bukanlah tugas yang berat. Jika anda&lt;br /&gt;adalah  seorang  dokter,  perlakukanlah  pasien  anda dengan&lt;br /&gt;kebaikan. Itulah Zen."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusuda mengundang  Nan-in  tiga  kali.  Setiap  kali  Nan-in&lt;br /&gt;mengatakan  hal  yang  sama,  "Seorang  dokter  tidak  boleh&lt;br /&gt;memboroskan waktunya di sini. Pulanglah dan rawatlah  pasien&lt;br /&gt;anda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih  belum  jelas bagi Kusuda bagaimana ajaran seperti itu&lt;br /&gt;bisa menghapuskan ketakutan akan kematian. Oleh  sebab  itu,&lt;br /&gt;pada  kunjungan  keempat ia mengeluh, "Teman saya mengatakan&lt;br /&gt;bahwa  jika  mempelajari  Zen,  seseorang  akan   kehilangan&lt;br /&gt;ketakutan  akan  kematian.  Setiap kali saya datang ke sini,&lt;br /&gt;anda menasihati saya untuk merawat pasien saya.  Saya  sudah&lt;br /&gt;tahu  hal  itu.  Jika  inilah yang anda katakan sebagai Zen,&lt;br /&gt;saya tidak akan mengunjungi anda lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nan-in tersenyum dan menepuk dokter itu, "Saya telah terlalu&lt;br /&gt;ketat terhadap anda. Marilah saya berikan sebuah koan kepada&lt;br /&gt;anda." Ia memberikan kepada  Kusuda  sebuah  Mu  dari  Joshu&lt;br /&gt;untuk  dipikirkan,  yang  merupakan  tugas  pencerah-pikiran&lt;br /&gt;pertama di dalam buku yang  berjudul  "The  Gateless  Guide"&lt;br /&gt;(Pintu Gerbang yang tidak Berbatas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusuda  mengggeluti  masalah  Mu  (Tiada Apa-Apa) selama dua&lt;br /&gt;tahun. Akhirnya, ia merasa  bahwa  telah  mencapai  kemajuan&lt;br /&gt;dalam pikiran. Akan tetapi, si guru berkomentar, "Anda masih&lt;br /&gt;belum mencapai kemajuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusuda melanjutkan  dengan  penuh  konsentrasi  selama  satu&lt;br /&gt;setengah  tahun  lagi.  Pikirannya  menjadi  tenang. Problem&lt;br /&gt;terselesaikan. Tiada Apa-Apa menjadi kebenaran.  Ia  merawat&lt;br /&gt;pasiennya  dengan  baik dan bahkan tanpa ia sadari, ia telah&lt;br /&gt;bebas dari pemikiran tentang kehidupan dan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ketika ia mengunjungi Nan-in, gurunya  yang  dulu  ini&lt;br /&gt;hanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MENERBITKAN SUTRA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetsugen,  seorang  pengabdi Zen di Jepang, memutuskan untuk&lt;br /&gt;menerbitkan sutra, yang pada waktu tersebut hanya didapatkan&lt;br /&gt;dalam  bahasa China. Buku itu akan dicetak dengan balok kayu&lt;br /&gt;dalam bentuk edisi tujuh ribu kitab,  suatu  pekerJaan  yang&lt;br /&gt;luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetsugen  memulainya  dengan berkelana dan mengumpulkan dana&lt;br /&gt;untuk tujuan ini.  Beberapa  simpatisan  memberinya  seratus&lt;br /&gt;keping   emas,   tetapi  kebanyakan  di  antaranya  hanyalah&lt;br /&gt;kepingan uang yang kecil. Ia berterima  kasih  kepada  semua&lt;br /&gt;penyumbang  dengan  sikap  yang  sama. Setelah sepuluh tahun&lt;br /&gt;Tetsugen mempunyai uang yang cukup untuk memulai tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu, Sungai Uji banjir. Kelaparan  pun  menyusul.&lt;br /&gt;Tetsugen  mempergunakan  uang  yang telah ia kumpulkan untuk&lt;br /&gt;membeli buku-buku dan menolong orang  lain  dari  kelaparan.&lt;br /&gt;Lalu, ia mengulangi lagi kegiatan mengumpulkan dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa  tahun kemudian epidemi menyebar di seluruh penjuru&lt;br /&gt;dunia. Tetsugen sekali lagi mempergunakan  uang  yang  telah&lt;br /&gt;terkumpul olehnya untuk membantu orang-orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  ketiga kalinya, ia memulai lagi usahanya, dan setelah&lt;br /&gt;dua puluh tahun keinginannya  pun  tercapai.  Balok  cetakan&lt;br /&gt;yang  menandai edisi pertama itu bisa kita lihat hari ini di&lt;br /&gt;vihara Obaku di Kyoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Jepang memberitahukan kepada anak  cucu  mereka  bahwa&lt;br /&gt;Tetsugen  membuat  tiga  kelompok  sutra,  dan  bahwa  kedua&lt;br /&gt;kelompok yang tidak  kelihatan  itu  bahkan  melampaui  yang&lt;br /&gt;terakhir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;PERANGAI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang  murid  Zen  mendatangi  Bankei dan mengeluh, "Guru,&lt;br /&gt;saya mempunyai perangai yang tidak terkendalikan.  Bagaimana&lt;br /&gt;saya bisa mengubahnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu  mempunyai  sesuatu  yang  sangat aneh," jawab Bankei.&lt;br /&gt;"Biarkan saya lihat apa yang kamu miliki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang ini  saya  tidak  bisa  menunjukkannya  kepadamu,"&lt;br /&gt;jawab murid tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kapankah  anda  bisa  menunjukkannya  kepada  saya?"  tanya&lt;br /&gt;Bankei&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesuatu ini muncul secara tidak diharap-harapkan," jawab si&lt;br /&gt;murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika  demikian,"  Bankei  menyimpulkan, "Itu pastilah bukan&lt;br /&gt;milik anda. Jika memang milik anda, anda bisa menunjukkannya&lt;br /&gt;kepada  saya setiap saat. Ketika kamu dilahirkan, kamu tidak&lt;br /&gt;memilikinya, dan orangtua kamu tidak memberikannya kepadamu.&lt;br /&gt;Pikirkanlah hal ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TEROWONGAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zenkai,  putera seorang samurai, melakukan perjalanan ke Edo&lt;br /&gt;dan di sana menjadi pelayan seorang pejabat tinggi. Ia jatuh&lt;br /&gt;cinta  dengan isteri pejabat itu dan ketahuan. Sebagai usaha&lt;br /&gt;perlindungan diri, ia membunuh  pejabat  itu.  Kemudian,  ia&lt;br /&gt;melarikan diri dengan isteri pejabat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya  kemudian  menjadi pencuri. Akan tetapi, wanita ini&lt;br /&gt;sedemikian   rakusnya   sehingga   Zenkai   menjadi    jijik&lt;br /&gt;melihatnya.  Akhirnya, ia meninggalkan wanita itu, melakukan&lt;br /&gt;perjalanan jauh ke propinsi Buzen,  di  sanalah  ia  menjadi&lt;br /&gt;seorang pengemis yang berkelana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghapuskan kesalahan masa lampaunya, Zenkai bertekad&lt;br /&gt;untuk melakukan beberapa kebajikan selama  hidupnya.  Karena&lt;br /&gt;tahu  bahwa ada sebuah jalan yang berbahaya di sebuah tebing&lt;br /&gt;yang telah mengakibatkan kematian dan kecelakaan bagi banyak&lt;br /&gt;orang,   ia  memutuskan  untuk  menggali  sebuah  terowongan&lt;br /&gt;menembusi gunung di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari  mengemis  makanan,  pada  malam  harinya  Zenkai&lt;br /&gt;bekerja   menggali  terowongan.  Setelah  tiga  puluh  tahun&lt;br /&gt;berlalu,  terowongan  yang  berhasil  digalinya  itu   telah&lt;br /&gt;mencapai  sepanjang  2280  kaki,  dengan tinggi 20 kaki, dan&lt;br /&gt;lebamya 30 kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua  tahun  sebelum  tugas  ini  diselesaikan,  putera  dari&lt;br /&gt;pejabat   yang  telah  dibunuhnya,  yang  merupakan  seorang&lt;br /&gt;serdadu yang trampil,  menemukan  Zenkai  dan  datang  untuk&lt;br /&gt;membunuhnya sebagai pembalasan dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya  akan  memberikan kepada anda nyawa saya secara rela,"&lt;br /&gt;kata Zenkai, "Biarkanlah saya  menyelesaikan  pekerjaan  ini&lt;br /&gt;terlebih  dahulu.  Pada  saat  terowongan ini telah selesai,&lt;br /&gt;kamu boleh membunuhku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, serdadu itu menunggu waktu. Beberapa  bulan&lt;br /&gt;berlalu  dan  Zenkai  masih  saja  tetap menggali. Anak muda&lt;br /&gt;tersebut menjadi bosan menunggu dan mulai membantu menggali.&lt;br /&gt;Setelah  membantu  selama  lebih dari satu tahun, ia menjadi&lt;br /&gt;kagum atas tekad kuat dan karakter Zenkai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya  terowongan  itu  pun  jadi  dan  orang-orang  bisa&lt;br /&gt;menggunakannya serta berjalan melaluinya dengan aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang  penggallah  kepala saya," kata Zenkai, "Pekerjaan&lt;br /&gt;saya telah tuntas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana bisa saya memenggal kepala  guru  saya  sendiri?"&lt;br /&gt;tanya anak muda itu dengan tetes air mata di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TIDAK ADA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yamaoka   Tesshu,   sebagai   seorang   pelajar   muda  Zen,&lt;br /&gt;mengunjungi satu per satu guru. Ia  mendatangi  Dokuon  dari&lt;br /&gt;Shokoku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan   maksud   menunjukkan   pencapaiannya,  ia  berkata,&lt;br /&gt;"Pikiran, Buddha, dan makhluk berindera, semuanya tidak ada.&lt;br /&gt;Sifat  sebenarnya dari semua fenomena ialah kehampaan. Tidak&lt;br /&gt;ada penyadaran, tiada khayalan,  tiada  orang  bijak,  tiada&lt;br /&gt;orang   awam.   Tidak  ada  pemberian  dan  tidak  ada  yang&lt;br /&gt;diterima."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokuon, yang  secara  diam-diam  merokok,  tidak  mengatakan&lt;br /&gt;apa-apa.  Tiba-tiba,  ia  memukul  Yamaoka dengan pipa rokok&lt;br /&gt;bambunya. Ini membuat pemuda itu cukup marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika  tidak  ada  apa-apa,"  jelas  Dokuon,  "Dari  manakah&lt;br /&gt;kemarahan ini bersumber?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;---------------------&lt;br /&gt;Daging ZEN Tulang ZEN&lt;br /&gt;Bunga Rampai Karya Tulis Pra-Zen dan Zen&lt;br /&gt;Dikumpulkan oleh: Paul Reps&lt;br /&gt;Edisi Keenam Oktober 1996&lt;br /&gt;Yayasan Penerbit Karaniya&lt;br /&gt;Anggota IKAPI, Kotakpos 1409 Bandung 40001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-2701527287109876363?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/2701527287109876363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/daging-zen-tulang-zen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/2701527287109876363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/2701527287109876363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/daging-zen-tulang-zen.html' title='Daging Zen Tulang Zen'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-2494938395927963829</id><published>2009-09-05T12:22:00.000-07:00</published><updated>2009-09-05T12:24:00.232-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>RSBI untuk Dongkrak Mutu Pendidikan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SlhghH2la_I/AAAAAAAAC94/ZpX0i-l--xg/s1600/11sdinte.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SlhghH2la_I/AAAAAAAAC94/ZpX0i-l--xg/s320/11sdinte.gif" /&gt;&lt;/a&gt;[JAKARTA] Pemerintah berupaya mendongkrak mutu pendidikan dengan menyelenggarakan rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI). Ditargetkan, lebih dari 500 RSBI akan hadir di seluruh Indonesia. "RSBI itu amanat UU Sisdiknas," kata Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional (Sekjen Depdiknas) Dodi Nandika saat dihubungi SP, di Jakarta, Kamis (9/7).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strike&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strike&gt;&lt;br /&gt;Namun, tegasnya, untuk mengubah sekolah reguler menjadi RSBI atau SBI tidak mudah. Ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi, seperti diatur dalam PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Standar itu meliputi standar isi, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar proses pembelajaran, standar evaluasi pendidikan, serta standar pengelolaan pendidikan. "Kalau salah satu standar itu belum terpenuhi, ya tidak mungkin pemerintah mengabulkan permintaan sekolah menjadi RSBI. RSBI tidak hanya untuk mencerdaskan otak kanan siswa, tetapi juga mengasah otak kiri," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain meningkatkan kecerdasan, katanya, RSBI juga menetapkan standar pendidikan bagi staf pengajar. "Untuk staf pengajar tingkat SMA, minimal 30 persen guru berpendidikan S2 atau S3 dengan program studinya akreditasi A. Begitu juga dengan kepala sekolahnya, minimal berpendidikan S2 dengan program studinya akreditasi A," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menunjang kreativitas siswa, RSBI harus dilengkapi sarana dan prasarana memadai, seperti perpustakaan dengan sarana digital yang tergabung dengan Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) ataupun internet, serta memiliki ruang multimedia dan ruang seni-budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, Depdiknas bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mewujudkan RSBI. "Setiap kabupaten/kota harus memiliki minimal satu SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA, serta SMK yang bertaraf internasional," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya soal pungutan, Dodi menyatakan, sekolah yang sudah menjadi RSBI diperbolehkan menggalang dana dari masyarakat. "Namun, sumbangan itu tidak boleh memberatkan dan harus ada kesepakatan dengan komite sekolah yang merupakan perwakilan orangtua siswa. Juga, tidak boleh membebani siswa yang kurang mampu. Akuntabiltas dan transparansi keuangan menjadi prioritas," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mutu Lulusan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Depdiknas, Suyanto mengatakan, RSBI dirancang untuk menghasilkan lulusan yang mutunya diakui dan setara dengan tamatan sekolah di negara-negara Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) atau negara maju lainnya. Salah satu program SBI adalah metode pembelajaran dengan menggunakan bahasa Inggris. Namun untuk pelajaran matematika, agama, sejarah, dan beberapa pelajaran lainnya tetap menggunakan bahasa Indonesia. "Kita tidak dapat menghilangkan bahasa Indonesia dalam beberapa mata pelajaran. Jangan sampai kita kehilangan jati diri dengan tidak menggunakan bahasa Indonesia," katanya. [W-12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Suara Pembaruan, Sabtu, 11 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-2494938395927963829?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/2494938395927963829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/rsbi-untuk-dongkrak-mutu-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/2494938395927963829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/2494938395927963829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/rsbi-untuk-dongkrak-mutu-pendidikan.html' title='RSBI untuk Dongkrak Mutu Pendidikan'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SlhghH2la_I/AAAAAAAAC94/ZpX0i-l--xg/s72-c/11sdinte.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-2526245833384887488</id><published>2009-09-04T14:02:00.000-07:00</published><updated>2011-02-25T13:15:49.265-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='blogger'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SEO'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tutorial'/><title type='text'>T=v1+v2. Cara Meningkatkan Traffic dan Popularity Web/Blog Anda dengan Cepat dan Aman</title><content type='html'>&lt;b&gt;Mohon baca baik-baik lalu terapkan dengan benar....&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebuah filosofi mengatakan&lt;span style="background-color: yellow;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;b style="background-color: yellow;"&gt;"Honesty is The Best Policy (Kejujuran adalah politik/strategi terbaik)"&lt;/b&gt;, inilah yang akan kita buktikan....apakah konsep kejujuran bisa kita olah menghasilkan traffic dan popularity yang lebih hebat dari konsep rumit para expert webmaster atau pakar SEO..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin bisa, asal konsep ini di jalankan dengan benar..., bila ini di terapkan pada web anda sesuai ketentuan maka:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Web anda akan kebanjiran traffic pengunjung secara luar biasa hari demi hari, tanpa perlu repot-repot memikirkan SEO atau capek-capek promosi keberbagai tempat di dunia internet.&lt;br /&gt;2. Web anda akan kebanjiran backlink secara luarbiasa hari demi hari, tanpa perlu repot-repot berburu link keberbagai tempat di dunia internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Albert Einstein memakai persamaan &lt;b&gt;e=mc2&lt;/b&gt; untuk menggabungkan potensi masa dan kecepatan cahaya untuk menghasilkan energi nuklir yang luar biasa itu, maka kita akan memakai persamaan &lt;b&gt;t=v1+v2&lt;/b&gt; untuk menggabungkan potensi web saya dan web anda untuk menghasilkan traffic dan popularity yang luar biasa pula.&lt;br /&gt;Jika Einstein menggunakan atom plutonium dan uranium untuk membuat bom nuklir, maka kita menggunakan Kejujuran dan Ketepatan untuk membuat bom traffic dan popularity ini.&lt;br /&gt;Yang perlu anda lakukan adalah ikuti langkah-langkah berikut :&lt;br /&gt;1. Buat posting artikel seperti posting saya ini, atau copy-paste posting ini dan juga diberi berjudul : &lt;b&gt;t=v1+v2&lt;/b&gt; ,Cara meningkatkan traffic dan popularity dengan cepat dan alami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Selanjutnya Copy atau buat &lt;b&gt;KALIMAT SAKTI&lt;/b&gt; yang ada di bawah nomor 4 ini lalu pasang di web anda pada bagian yang paling mudah dilihat pengunjung, misalnya di bagian atas sidebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pindahkan atau ganti link atau alamat url posting saya &lt;b&gt;(disini-1)&lt;/b&gt; menggantikan alamat url rekan saya &lt;b&gt;(disini-2)&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;-untuk mengetahui alamat url posting saya dan posting yang anda buat adalah bisa dengan meng-klik judul/title posting yang kita buat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Lalu isi alamat url posting anda pada pada &lt;b&gt;(disini-1)&lt;/b&gt; tadi. Jadi anda melakukan publish (terbitkan) 2 kali, setelah posting ini selesai anda buat lalu di terbitkan, dan lalu anda klik pada title (judul) posting untuk mengambbil/meng-copy alamat url posting anda dari address bar browser anda, lalu anda edit lagi posting tadi dan masukan pada link &lt;b&gt;(disini-1)&lt;/b&gt; itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut tulisan &lt;b&gt;"KALIMAT SAKTI"&lt;/b&gt; yang perlu anda pasang di bagian web anda (setelah di ganti link url-nya sesuai ketentuan di atas) &lt;b&gt;"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...?...&lt;br /&gt;Serahkan pada saya.… Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...!..Klik disini-1 dan disini-2"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;5. Di bawah ini ada 2 link : link anda (link web saya sekarang) dan link saya (link web rekan saya sekarang). Maka ganti (alamatnya) "link anda" dengan "link url web anda" dan "link saya dengan link url web saya" (link rekan saya di hapus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://towakpagi.blogspot.com/"&gt;http://www.toak.co.cc/&lt;br /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://dee-nesia.blogspot.com/"&gt;http://dee-nesia.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;-Jadi setelah &lt;b&gt;KALIMAT SAKTI&lt;/b&gt; ini di letakan di web anda maka: jika pengunjung meng-klik link &lt;b&gt;disini-1&lt;/b&gt; akan menuju link posting anda, dan jika meng-klik &lt;b&gt;disini-2&lt;/b&gt; akan menuju link posting saya...dan seterusnya kan terus terjadi mata rantai seperti itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Selesai!!! Siapkan counter tracker dan pengecek link misalnya sitemeter dan technorati untuk melihat hasil banjir traffic dan linkback web anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu &lt;b&gt;t=v1+t2&lt;/b&gt;...?&lt;br /&gt;&lt;b&gt;t&lt;/b&gt; : Jumlah traffic yang akan di peroleh web anda dalam suatu hari&lt;br /&gt;&lt;b&gt;v1&lt;/b&gt; : Jumlah pengunjung web anda dalam suatu hari&lt;br /&gt;&lt;b&gt;v2&lt;/b&gt;: Jumlah pengunjung yang dimiliki v1 (pengunjung dari pengunjung web anda) dalam suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Traffic:&lt;br /&gt;Misalnya, web saya ini atau web anda dalam sehari memiliki rata-rata pengunjung 50 orang.., dan semuanya menerapkan konsep kita ini &lt;b&gt;(KALIMAT SAKTI)&lt;/b&gt; dengan benar, dan dari 50 orang itu masing-masing memiliki 50 orang pula pengunjung dari blog-nya , maka web kita akan berpeluang di kunjungi 50 ditambah 50 x 50 orang pada hari itu = 2550 orang , dan akan berpeluang terus meningkat pula hari demi hari ,karena setiap hari selalu ada pengunjung baru di dunia internet, setiap hari juga ada blogger atau web baru di dunia internet...&lt;b&gt;BUKTIKAN!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Popularity:&lt;br /&gt;Misalnya, web kita memiliki pengunjung 50 orang dalam suatu hari, dan semuannya menerapkan konsep ini , maka dalam hari itu web anda akan mendapatkan 100 linkback ke web anda, yaitu sebuah link pada &lt;b&gt;KALIMAT SAKTI&lt;/b&gt; dan sebuah link pada link saya di kalikan 50. dan akan berpeluang meningkat terus hari demi hari....&lt;br /&gt;Kenapa perlu di buat link link anda dan link saya pada posting...?&lt;br /&gt;...hal ini untuk menjaga keabadian link kita, karena seperti kita tahu link pada posting lebih kecil kemungkinannya terhapus....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: yellow;"&gt;Bisakah kita berbuat tidak fair atau tidak jujur menyabotase konsep ini, misalnya "menghilangkan semua link asal" lalu di isi dengan web/blog kita sendiri...? Bisa, dan konsep ini tidak akan menjadi maksimal untuk membuktikan Kejujuran adalah strategi/politik terbaik..... Tapi saya yakin bahwa kita semua tak ingin menjatuhkan kredibilitas diri sendiri dengan melakukan tindakan murahan seperti itu...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-2526245833384887488?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/2526245833384887488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/tv1v2-cara-meningkatkan-traffic-dan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/2526245833384887488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/2526245833384887488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/09/tv1v2-cara-meningkatkan-traffic-dan.html' title='T=v1+v2. Cara Meningkatkan Traffic dan Popularity Web/Blog Anda dengan Cepat dan Aman'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-7464658127996134825</id><published>2009-08-30T17:50:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T17:50:05.553-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='video'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WS Rendra'/><title type='text'>W.S Rendra Last Performance, Last Memories in Surabaya</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/IzHGW7WwQIc&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;color1=0x2b405b&amp;color2=0x6b8ab6"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/IzHGW7WwQIc&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;color1=0x2b405b&amp;color2=0x6b8ab6" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-7464658127996134825?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/7464658127996134825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/08/ws-rendra-last-performance-last.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/7464658127996134825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/7464658127996134825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/08/ws-rendra-last-performance-last.html' title='W.S Rendra Last Performance, Last Memories in Surabaya'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-3138251371526015619</id><published>2009-08-29T00:35:00.001-07:00</published><updated>2009-08-30T17:51:48.217-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='video'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WS Rendra'/><title type='text'>Sajak Sebatang Lisong - Rendra</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/MQxEgrwJLkk&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;color1=0x402061&amp;color2=0x9461ca"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/MQxEgrwJLkk&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;color1=0x402061&amp;color2=0x9461ca" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-3138251371526015619?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/3138251371526015619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/08/sajak-sebatang-lisong-rendra_4488.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/3138251371526015619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/3138251371526015619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/08/sajak-sebatang-lisong-rendra_4488.html' title='Sajak Sebatang Lisong - Rendra'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-5672989136533443875</id><published>2009-08-29T00:19:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T00:19:49.261-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='video'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nasionalisme'/><title type='text'>Lagu Indonesia Raya Versi Asli</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/KvrfjfRdnbM&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;color1=0x3a3a3a&amp;color2=0x999999"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/KvrfjfRdnbM&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;color1=0x3a3a3a&amp;color2=0x999999" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-5672989136533443875?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/5672989136533443875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/08/lagu-indonesia-raya-versi-asli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/5672989136533443875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/5672989136533443875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/08/lagu-indonesia-raya-versi-asli.html' title='Lagu Indonesia Raya Versi Asli'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-2332783978557015322</id><published>2009-08-28T09:50:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T12:03:13.246-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kearifan lokal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Regenerasi Sandur Tuban Lebih Modern</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.surabayapost.co.id/gambar/98b110895d907ee289707d85ddf7ef27.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="141" src="http://www.surabayapost.co.id/gambar/98b110895d907ee289707d85ddf7ef27.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sandur adalah seni tradisional  Tuban yang eksistensinya hampir punah, mulai dibangkitkan dengan kemasan lebih modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SANDUR atau semacam tandakan merupakan kesenian rakyat yang semakin terpinggirkan. Namun ditangan grup Sri Sadana, Sukorejo Kec. Parengan, pertunjukan seni budaya warisan leluhur yang sarat nilai supranatural dengan berbagai mantera itu tiba-tiba terasa enak ditonton. Apalagi syair-syair pun didendangkan dengan iringan gamelan terasa “menyihir”  penontonnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itulah seni Sandur yang mencoba dibangkitkan kembali Eko Kasmo, staf Dinas Pariwasata Tuban berkolaborasi Van Royen seniman muda asal Widang. Konsepnya sederhana, Sandur yang sebelumnya ditampilkan tengah malam hingga dini hari dan menghindari sorot lampu listrik serta  lebih menonjolkan atraksi akrobatik dan dialog di luar sadar itu, telah dikemas lebih manusiawi dengan cerita lebih variatif dan kekinian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai perubahan pakem,  menurut Eko, seni Sandur baru ini lebih cocok disebut teater Sandur  karena begitu cairnya kemasannya dan lebih fleksibel untuk ditampilkan. Bahkan pergelaran tak perlu sampai dini hari, cukup satu jam atau lebih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti saat penampilan mengambil tema Pilpres, yang berlangsung 45 menit. Kisahnya juga sederhana dengan menampilkan tokoh Balong (barat daya), Petak (barat laut), Tansil  (tenggara) dan Cawik (timur laut). Semua itu melambangkan asal usul empat tokoh tersebut. Lalu ditambah beberapa tokoh lainnya yang terlibat dialog  kocak dalam suasana yang begitu cair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Eko Kasmo, staf Dinas Pariwisata Tuban menyatakan, seni yang dulu populer dan selalu dipentaskan usai masa panen itu, hanya tinggal beberapa saja. Kelompok Semanding, yaitu Bektiharjo dan Prunggahan masih mempertahankan keasliannya dengan ritual magis dan pertunjukan kalongkingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah selatan Tuban, seperti di Parengan dan perbatasan Montong, unsur cerita yang ditonjolkan. Seperti kelompok Sri Sadana di Sukorejo, yang tampil dengan kemasan modern. Dalam pertunjukannya sudah meninggalkan atraksi kalongking. Namun kisahnya masih mengambil pakem lama, misalnya mantri dan blandong (pencuri kayu), pencari kerja, tentang pertanian, dan beberapa kisah lain khas desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang saya tahu Sandur sudah ada sejak tahun 60-an. Kalau Sri Sadana ini sudah regenerasi yang kesekian kali dan eksis kembali sejak 2.000 dipimpin Ki Rispan yang juga ahli mantera atau tanduk dalam pertunjukan itu,” kata Eko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah berarti pertunjukan Sandur kemasan moderan benar-benar lepas dari unsur supranatural? Baik Eko maupun Van Royen tak bisa menjamin. “Tadi Pak Tanduk bilang dapat kontak dari alam gaib, katanya kok dipanggil-panggil terus, kapan dimainkan,” kata Van Royen, sambil tertawa kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Sumber: Surabaya Post&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-2332783978557015322?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/2332783978557015322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/08/regenerasi-sandur-lebih-modern.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/2332783978557015322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/2332783978557015322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/08/regenerasi-sandur-lebih-modern.html' title='Regenerasi Sandur Tuban Lebih Modern'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-5082413419913012514</id><published>2009-08-28T06:36:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T12:03:13.246-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kearifan lokal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Kesenian Kentrung yang Nyaris Punah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fCQLE1LQOa8/SpfctSQfsfI/AAAAAAAAAJA/b5c4d27XJDA/s1600-h/kentrung1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_fCQLE1LQOa8/SpfctSQfsfI/AAAAAAAAAJA/b5c4d27XJDA/s400/kentrung1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Seni tradisi, Kentrung Bate asal Desa Bate, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, nyaris punah. Pasalnya, seni yang sarat makna siar kebajikan ini kesulitan mencari generasi penerus. Kentrung Bate yang semula dipopulerkan Kiai Basiman di era zaman penjajahan Belanda tahun 1930-an, masih tersisa tiga orang yang berusia lanjut. Mereka yakni, Mbah Surati (90) sebagai Dalang Kentrung Bate, Mbah Setri (86) penabuh timlung (kentheng) dan Mbah Samijo (88) sebagai penabuh terbang besar (rebana). "Saya tidak tahu siapa yang akan meneruskan ngentrung. Anak-anak sekarang malu melakoni seni kentrung," kata Mbah Surati saat ditemui di rumahnya Desa Bate, Kecamatan Bangilan, Tuban kepada detiksurabaya.com, Rabu (22/10/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Rati, panggilan perempuan yang penglihatannya sudah buta ini mengaku kesulitan mencari pemain pengganti. Dalam perhelatan seni tradisional bernuansa magis, hanya dimainkan tiga personel. Dirinya pun selain dalang kentrung, juga merangkap sebagai penabuh kendang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sementara Mbah Setri dan Mbah Samijo, memegang perangkat irama, sekaligus bertindak sebagai penembang. Praktis tiga pelakon seni yang banyak ditanggap karena nadzar warga masyarakat itu berperan ganda. Sebagai penabuh gamelan dan pelantun syair-syair sarat pesan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat digelar perhelatan di rumah Mbah Rati, dalam rangka nadzar meminta turun hujan, puluhan warga Desa Bate, baik anak-anak dan orangtua memadati pelataran rumah papan sederhana tanpa plester. Mereka khusuk mengikuti irama tetabuhan kentrung, sekaligus menyimak bait demi bait syair yang dilantunkan Mbah Rati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan itu, 12 pelaku seni kontemporer dari Komunitas Soh dari Desa Sukorejo, Kecamatan Parengan, turut hadir mengikuti perhelatan di tepi tegalan kering. Mereka terlibat ikut meramu irama dengan perangkat rebana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita membantu Kentrung untuk persiapan festival Kesenian Pantai Utara yang akan digelar di Probolinggo minggu ini," kata Eko Kasmo dari Komunitas Soh saat di lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya Mbah Rati, Mbah Wiji, suami Mbah Rati juga mengaku kesulitan mencari penerus seni kentrung. "Anak cucu saya tidak ada yang mau menggantikan pemain kentrung. Mereka malu melakoni seni tradisional. Tapi mereka justru tak malu kalau disuruh nembang dangdut," kata Mbah Setri yang terhitung masih saudara sepupu Mbah Rati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Sumber: detik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-5082413419913012514?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/5082413419913012514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/08/kesenian-kentrung-yang-nyaris-punah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/5082413419913012514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/5082413419913012514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/08/kesenian-kentrung-yang-nyaris-punah.html' title='Kesenian Kentrung yang Nyaris Punah'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fCQLE1LQOa8/SpfctSQfsfI/AAAAAAAAAJA/b5c4d27XJDA/s72-c/kentrung1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-8823060515469464427</id><published>2009-07-31T12:31:00.000-07:00</published><updated>2009-07-31T12:31:36.092-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Sosiologi Sastra</title><content type='html'>Sosiologi berasal dari bahasa Yunani sosio atau socious yang berarti masyarakat dan kata logi atau logos yang berarti ilmu. Jadi sosiologi berarti ilmu mengenai asal-usul pertumbuhan (evolusi) masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antar manusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional dan empiris (Ratna, 2003: 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swingewood dalam Faruk (1999: 1) mendefinisikan sosiologi sebagai studi yang ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga-lembaga dan proses-proses sosial, sedangkan Ritzer dalam (Faruk, 1999: 2) menganggap sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang multi paradigma. Maksudnya, di dalam ilmu tersebut dijumpai beberapa paradigma yang saling bersaing satu sama lain dalam usaha merebut hegemoni dalam lapangan sosiologi secara keseluruhan. Paradigma itu sendiri diartikannya sebagai satu citra fundamental mengenai pokok persoalan dalam suatu ilmu pengetahuan, yaitu: paradigma fakta-fakta sosial, paradigma definisi sosial, dan paradigma perilaku sosial.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi adalah telaah yang obyektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat, telaah tentang lembaga dan proses sosial (Damono, 1978: 6). Seperti halnya sosiologi, sastra juga berurusan dengan manusia dalam masyarakat dengan di dalamnya terdapat usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan usahanya untuk mengubah masyarakat itu. Pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakat ini oleh beberapa penulis disebut sosiologi sastra (Damono, 1978: 6). &lt;br /&gt;Istilah sosiologi sastra pada dasarnya tidak berbeda pengertiannya dengan pendekatan sosiologis atau sosiokultur terhadap sastra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Damono (1978: 2), ada dua kecenderungan utama dalam telaah sosiologis terhadap sastra, yaitu: 1) Pendekatan yang berdasarkan anggapan bahwa sastra merupakan cermin proses sosial ekonomi belaka. Pendekatan ini bergerak dari faktor luar sastra untuk membicarakan sastra; 2) Pendekatan yang mengutamakan teks sastra sebagai bahan penelitian. Metode yang digunakan dalam sosiologi sastra ini adalah analisis teks untuk mengetahui lebih dalam lagi gejala di luar sastra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi sastra berdasarkan prinsip bahwa karya sastra merupakan refleksi pada zaman karya sastra itu ditulis yaitu masyarakat yang melingkupi penulis, sebab sebagai anggotanya penulis tidak dapat lepas darinya. Pendekatan sosiologi bertolak dari asumsi bahwa sastra merupakan cerminan kehidupan masyarakat, melalui karya sastra seorang pengarang mengungkapkan problem kehidupan yang pengarang sendiri ikut di dalam karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat bahkan seringkali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang hidup di suatu zaman, sementara sastrawan itu sendiri yang merupakan anggota masyarakat tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkannya dan sekaligus membentuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wellek dan Warren dalam Damono (1978:3) mengemukakan tiga klasifikasi yang berkaitan dengan sosiologi sastra, antara lain: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Sosiologi pengarang. Masalah yang berkaitan adalah dasar ekonomi, produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang, dan ideologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Sosiologi karya sastra. Masalah yang dibahas mengenai isi karya sastra, tujuan atau amanat, dan hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan berkaitan dengan masalah sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Sosiologi pembaca. Membahas masalah pembaca dan pengaruh sosial karya sastra terhadap pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi sosiologi sastra menurut Wellek dan Warren tidak jauh berbeda dengan klasifikasi kajian sosiologi sastra yang dikemukakan oleh Ian Watt. Ian Watt dalam eseinya yang berjudul “Literatur Society” (Damono 1978: 3-4) yang membicarakan hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra, dan masyarakat, yaitu antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)  Konteks sosial pengarang. &lt;br /&gt;Konteks sosial pengarang ada hubungannya dengan posisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca, dan faktor-faktor sosial yang mempengaruhi si pengarang sebagai perseorangan dan isi karya sastranya. Yang terutama harus diteliti adalah (a) bagaimana si pengarang mendapatkan mata pencahariannya, apakah ia menerima bantuan dari pengayom atau dari masyarakat secara langsung, atau dari kerja rangkap, (b) profesionalisme dalam kepengarangan: sejauh mana pengarang itu menganggap pekerjaannya sebagai profesi, dan (c) masyarakat apa yang dituju oleh pengarang dalam hubungan antara pengarang dan masyarakat, sebab masyarakat yang dituju sering mempengaruhi bentuk dan isi karya sastra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)  Sastra sebagai cermin masyarakat (Mimetik): &lt;br /&gt;Sejauh mana sastra dapat dianggap mencerminkan keadaan masyarakat pada waktu karya itu ditulis, yang terutama mendapat perhatian adalah (a) sastra mungkin tidak dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu ditulis, (b) sifat lain dari yang lain seorang pengarang sering mempengaruhi pemilihan penampilan faktor-faktor sosial dalam karyanya, (c) genre sastra merupakan sikap sosial kelompok tertentu, bahkan sikap sosial seluruh masyarakat, (d) sastra berusaha untuk menampilkan keadaan masyarakat secermat-cermatnya, mungkin saja tidak dipercaya sebagai cermin pandangan sosial pengarang harus diperhitungkan apabila kita menilai karya sastra sebagai cermin masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Fungsi sosial sastra.&lt;br /&gt;Hal yang perlu dipertanyakan adalah sampai seberapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial dan seberapa jauh nilai sastra dipengaruhi nilai sosial. Pada hubungan ini, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu sudut pandang ekstrinsik kaum Romantik, sastra bertugas sebagai penghibur adanya kompromi dapat dicapai dengan meninjau slogan klasik bahwa sastra harus menggunakan sesuatu dengan cara menghibur (Damono 1978: 3-4). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sejauh ini teori yang telah diakui relevansinya terhadap analisis sosiologi sastra adalah strukturalisme genetik yang dikembangkan oleh Lucien Goldmann (Damono, 1978: 40-48). Menurut Goldmann dalam Endraswara (2003: 57) karya sastra sebagai struktur bermakna itu akan mewakili pandangan dunia pengarang, tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakatnya. Sehingga karya sastra tidak akan dapat dipahami secara utuh jika totalitas kehidupan masyarakat yang telah melahirkan teks sastra diabaikan begitu saja. Pengabaian unsur masyarakat berarti penelitian sastra menjadi pincang. Oleh karena itu, karya sastra dapat dipahami asalnya dan kejadiannya (unsur genetiknya) dari latar belakang sosial tertentu. Keterkaitan pandangan dunia pengarang dengan ruang dan waktu tertentu tersebut, bagi Goldmann merupakan hubungan genetik. Oleh karena itu, muncullah teori yang disebut dengan Strukturalisme Genetik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strukturalisme Genetik merupakan embrio penelitian sastra dari aspek sosial yang kelak disebut sosiologi sastra. Hanya saja, Strukturalisme Genetik tetap mengedepankan juga aspek struktur. Baik struktur dalam maupun struktur luar, tetap dianggap penting bagi pemahaman karya sastra (Endraswara, 2003: 60). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;*DAFTAR RUJUKAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra (Sebuah Pengantar Ringkas). Jakarta: Depdikbud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian sastra (Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra (Dari Strukturalisme Genetik sampai Posmo  Modernism). Jakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Ratna, Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-8823060515469464427?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/8823060515469464427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/07/sosiologi-sastra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/8823060515469464427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/8823060515469464427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/07/sosiologi-sastra.html' title='Sosiologi Sastra'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-3083199244519255843</id><published>2009-07-31T11:42:00.000-07:00</published><updated>2009-09-11T03:14:09.097-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='eksistensialisme'/><title type='text'>Eksistensialisme Jean Paul Sartre</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://quirkyworld.files.wordpress.com/2009/03/sartre.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://quirkyworld.files.wordpress.com/2009/03/sartre.jpg" width="134" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Eksistensialisme berkembang pada abad XX di Prancis dan di Jerman (Lavine, 2003:09). Eksistensialisme adalah merupakan reaksi terhadap materialisme dan idealisme (Drijakara, 1979:57). Pandanagn materilaisme dan idealisme terlalu ekstrim dalam memandang manusia. Materialisme dan idealisme memandang sudut bawah manusia dan menganggap aspek itu sebagai keseluruhan dari manusia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksistensialisme sebagai filsafat, ternyata agak berbda dengan filsafat-filsafat yang lain. Eksistensialisme tidak pernah menjadi aliran atau gerakan. Tepatnya terdapat kemiripan antara pemikir-pemikir eksistensial dalam hal permasalah-permasalahan yang mereka ajukan dan sebagaimana mereka melihat kedudukan mereka di dalam alam semesta (Smith, 2000:76). Lebih lanjut Adian (2002:76) menyatakan eksistensialisme adalah filsafat yang menyibukkan diri dengan persoalan eksistensi, khususnya eksistensi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksistensialisme menganggap eksistensialisme mendahului esensi. Jika manusia berkonsep eksistensi mendahului esensi, maka ia akan mendewa-dewakan kebebasan, dengan kebebasan itulah menurut Sartre maka manusia akan bertanggung jawab atas makna keadaan yang manusia hadapi (Lavine, 2002:349).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lavine (2003:16-23) ciri khas eksistensialisme dibagi dalam beberapa tema, antara lain : (1) eksistensi mendahului esensi, (2) kegelisahan atau rasa derita ketidaknyamanan menyeluruh, ketakutan akan ancaman, (3) irasionalitas atau ketidakmasukakalan hidup, (4) adanya kehampaan atau kekosongan, (5) kematian, dan (6) keterasingan atau alienasi. Seperti halnya Lavine, Smith juga membagi cirri khas eksistensialisme kebeberapa tema, anatara lain : (1) kebebasan, (2) individualitas, (3) tanggung jawab, (4) pilihan, (5) rasa bersalah, (6) alienasi, (7) keputusasaan, dan (8) kematian (2000:77-78). Lebih lanjut Koeswara (1987:15-18) menyatakan bahwa tema-tema eksistensialisme adalah : (1) kebersamaan, cinta, dan pertentangan, (2) kesepian dan keterasingan, dan (3) kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertens (1987:60) menyatakan eksistensialisme terbagi dua mazhab, pertama, eksistensialisme teis, seperti Soren Kierkegaard, Jasper, dan Gabriel Marcel. Kedua, eksistensialisme ateis, seperti Martin Heideger, Nietzsche, dan Jean Paul Sartre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan tema-tema eksistensialisme yang dinyatakan Lavine, Smith, dan Koeswara, dapat diambil sebuah garis besar bahwa tema-tema eksistensialisme menitikberatkan pada tema kebebasan, rasa bersalah, cinta, dan keterasingan. Karena tema-tema tersebut sangat dominan dan kompleks dalam kehidupan manusia, terutama menyangkut eksistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)Kebebasan&lt;br /&gt;Kebebasan adalah fakta sentral dari eksistensialisme. Menurut Sartre, manusia adalah kebebasan, dan hanya dengan kebebasan ia bisa bertanggungjawab (Hasan, 1991:139).&lt;br /&gt;Menurut May (1993:179), kebebasan adalah kemampuan untuk berpartisipasi dalam perkembangan sendiri. Kebebasan juga merupakan potensi untuk membentuk diri sendiri terhadap dunianya sendiri. Leahly (1988:205) menyatakan bahwa kebebasan terbagi menjadi dua bagian, yaitu kebebasan vertical dan kebebasan horizontal. Kebebasan vertikal adalah kebebasan manusia yang berkaitan dengan Tuhan, sedangkan kebebasan horizontal adalah kebebasan yang berkaitan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)Rasa Bersalah&lt;br /&gt;Poduska (2000:05) menyatakan bahwa rasa bersalah merupakan tema eksistensialisme, sebab kaun eksistensialisme berpendapat bahwa rasa bersalah atas segala sesuatu adalah bukan karena orang lain, melainkan karena dirinya sendiri. Rasa bersalah adalah hal yang biasa dialami setiap manusia di dunia ini dan sifatnya wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)Cinta&lt;br /&gt;Plato (1986:31) menyatakan cinta sebagai semua keinginan akan hal-hal yang baik dan membahagiakan. Lain halnya dengan eksistensialisme yang menganggap cinta sebagai alat untuk merenggut kebebasan orang lain. Oleh sebab itu, cinta antar manusia diwujudkan dalam bentuk sadistis dan masochis, namun dalam eksistensialisme bukan merupakan penyimpangan seksual, melainkan hal yang wajar dan manusiawi. Selain cinta antara manusia, terdapat cinta religius, yakni cinta kepada Tuhan (Fromm, 2002:78-134).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)Keterasingan&lt;br /&gt;Keterasingan atau alienasi adalah tindakan pada kebebasan otonomi tidak pada individunya, melainkan sebuah aktivitas-aktivitas yang ada di luar dirinya (Rosyadi, 2000:20). Keterasingan biasanya muncul dalam keluarga, antar orang tua dan anak, antar suami dan istri, antar anak dan anak. Alienasi berpengaruh pada hubungan sosial, dan yang paling kejam alienasi mendominasi hubungan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR RUJUKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adian, Donny Gahhral&lt;br /&gt;2002 Pilar-pilar Filsafat kontemporer. Yogyakarta : Jala Sutra.&lt;br /&gt;Bartens, K&lt;br /&gt;1987 Sejarah Filsafat Barat. Jakarta : Gramedia.&lt;br /&gt;Drijakara, S. J.&lt;br /&gt;1978 Percikan Filsafat. Jakarta: Pembangunan.&lt;br /&gt;Fromm, Erick&lt;br /&gt;2002 The Art of Loving (diterjemahkan oleh Safi’i Alielha). Jakarta : Fresh Book.&lt;br /&gt;Hasan, Fuad.&lt;br /&gt;1991. Berkenalan dengan Eksistensialisme. Jakarta: Gramedia.&lt;br /&gt;Koeswara, E.&lt;br /&gt;1987 Psikologi Eksistensialisme. Bandung : Eresko.&lt;br /&gt;Lavine, T. Z.&lt;br /&gt;2002 Sartre: Filsafat Eksistensialisme Humanis (diterjemahkan oleh Andi Iswanto dan Dedi Andrian Utomo). Yogyakarta : Jendela.&lt;br /&gt;2003 Dari Socrates ke Sartre (diterjemahkan oleh Andi Iswanto dan Dedi Andrian Utomo). Yogyakarta : Jendela.&lt;br /&gt;Leahly, Louis&lt;br /&gt;1994 Filsafat Ketuhanan Kontemporer. Yogyakarta : Kanisius.&lt;br /&gt;May, Rollo&lt;br /&gt;1996 Manusia Mencari Dirinya. Jakarta :Miitra Utama.&lt;br /&gt;Plato&lt;br /&gt;1986 Simposium: Dialog Socrates Tentang Hakikat Cinta (diterjemahkan oleh Yayasan Pengembangan Ilmu). Bandung : Sinar Harapan.&lt;br /&gt;Poduska, Bernard&lt;br /&gt;2000 Teori Kepribadian: Eksistensialisme, Behaviorisme, Psikoanalisis, dan Aktualisasi Diri. Jakarta : Restu Agung.&lt;br /&gt;Rosyadi, Khoirul&lt;br /&gt;2002 Cinta Dan Keterasingan. Yogyakarta : LKIS.&lt;br /&gt;Smith, Linda dan William Reaper&lt;br /&gt;2000 Ide-ide Filsafat Agama: Dahulu Dan Sekarang. Yogyakarta : Kanisius.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-3083199244519255843?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/3083199244519255843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/07/eksistensialisme-berkembang-pada-abad.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/3083199244519255843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/3083199244519255843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/07/eksistensialisme-berkembang-pada-abad.html' title='Eksistensialisme Jean Paul Sartre'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-6540430858596844016</id><published>2009-07-29T14:20:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T12:03:13.247-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kearifan lokal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Pergelaran Seni Langka Sandur "Kalongking"</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:KRicLO0969Wy3M:http://www.jawakini.com/foto_budaya/sandur.bmp" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="129" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:KRicLO0969Wy3M:http://www.jawakini.com/foto_budaya/sandur.bmp" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padukan Magis dan Akrobatik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kesenian tradisional yang meski langka tapi masih ada di Bojonegoro adalah sandur kalongking. Selasa (24/6) malam lalu kesenian ini dipentaskan di Kelurahan Jetak, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TONNY ADE IRAWAN, Bojonegoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;———-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelompok orang mengenakan udeng (ikat kepala) duduk sambil asyik bernyanyi diiringi dua alat musik yang bersahut-sahutan. Tempat mereka duduk dibatasi dengan tali rafia. Di tiap-tiap jarak tertentu pada tali rafia itu terdapat jajan pasar yang diikatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan itu dipimpin seorang kakek. Di depan tempat sang kakek duduk terlihat sesaji. Isinya, antara lain jajan pasar, kemenyan yang sudah dibakar, serta bunga yang direndam di dalam panci berisi air.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saat nyanyian mencapai puncak, seorang lelaki yang duduk di deretan terdepan tiba-tiba menggelepar-gelepar. Beberapa orang kemudian menghampiri dan memegangi tubuh temannya itu. Kakek yang memimpin menyayi juga bangkit. Sambil membawa pecut (cambuk), dia kemudian mengambil jaran kepang (kuda lumping) dan menyerahkannya kepada orang yang menggelepar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan disuruh, lelaki yang menggelepar kemudian menaiki kuda dari anyaman bambu itu. Dia kemudian dituntun untuk memakan kembang yang telah direndam air dalam panci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah bagian awal dari pertunjukan seni sandur kalongking yang dipertontonkan di halaman Gedung Perak, Kelurahan Jetak, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro, Selasa (24/6) malam lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau seperti itu (menggelepar kemudian makan kembang, Red) berarti sudah kesurupan, dan orang yang sudah kerasukan itu biasa disebut sulur pandan yang fungsinya menjaga keamanan (dari gangguan makhluk halus, Red) selama berlangsungnya pertunjukan,” kata Masnun, kordonator pertunjukan malam itu. Menurut Masnun, sandur memang seperti drama, tapi berbau magis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, pemeran utama dalam drama itu hanya empat orang. Yakni, tokoh utama disebut Pethak, pemeran lelucon Tamsil, tokoh penyeimbang Balong, dan satu tokoh wanita yang berperan sebagai sindir biasa disebut Cawik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masnun menerangkan, kisah dalam drama itu sangat panjang. Mulai dari saat Pethak mencari kerja, panen, rabi (kawin), dan setersunya. ”Namun, malam ini dibatasi hanya Pethak cari kerja,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir cerita, ada pertunjukan kalongking. Menurut Masnun, pertunjukan ini menceritakan saat Pethak berburu kalong (kelelawar besar) di atas pohon, bersama teman-temannya. Kalong dalam drama ini diperankan seseorang yang bisa berjalan, tidur, ngitir (berputar) di atas tali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Semua dilakukan di atas ketinggian lebih dari delapan meter,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah menarik dalam seni sandur kalongking menurut Masnun adalah suasana magisnya. Di antaranya, ada orang yang kesurupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Memang dulunya ini adalah mainan anak yang diadopsi menjadi pertunjukan orang dewasa,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya, seni tradisional itu kini sudah langka. Pemainnya juga minim. Warisno, 50, saat ini merupakan satu-satunya pemeran kalong yang belum ada penggantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Anak muda sekarang hati dan pikirannya tidak mantep,” kata Warisno di sela-sela pertujukkan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak mantep itulah, lanjut dia, tidak ada anak muda yang berani menggantikan perannya sebagai kalong di pertujukan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan, selama ini kelompoknya tak pernah latihan rutin. Latihan hanya dilakukan sekali sebelum ada pertunjukan. ”Namun, kebanyakan tidak pernah latihan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, dulu sering sekali orang nanggap sandur. Misalnya, saat punya hajat atau saat panen. Namun, sekarang jarang sekali ada orang nanggap. Padahal, biaya nanggap sandur hanya Rp 2 juta sampai Rp 5 juta. ”Terakhir ditanggap ya sekitar setahun lalu saat acara valentine,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengaku dua tahun lalu tampil saat ditanggap Dinas Pariwisata Provinsi Jatim. Saat itu dia dan kru sandur hanya dibayar Rp 50 ribu. ”Padahal taruhanya nyawa saya,” katanya. (*)&lt;br /&gt;Radar Bojonegoro, Kamis, 26 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-6540430858596844016?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/6540430858596844016/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/07/padukan-magis-dan-akrobatik-salah-satu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/6540430858596844016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/6540430858596844016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/07/padukan-magis-dan-akrobatik-salah-satu.html' title='Pergelaran Seni Langka Sandur &quot;Kalongking&quot;'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-3045853448531891861</id><published>2009-07-29T13:29:00.000-07:00</published><updated>2009-07-30T20:26:21.691-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><title type='text'>[Profil] Remy Sylado: Berkarya = Tantangan yang Harus Dilewati</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://tbn2.google.com/images?q=tbn:B3T2FEu_THL3rM:http://encyclopediah.files.wordpress.com/2008/06/remy_silado3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://tbn2.google.com/images?q=tbn:B3T2FEu_THL3rM:http://encyclopediah.files.wordpress.com/2008/06/remy_silado3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;SENI adalah ungkapan perasaan, demikianlah pernyataan yang sering kita dengar mengenai seni. Memang, jika kita renungkan sejenak, maka sesungguhnya ungkapan tersebut benar adanya. Sebab, seni itu sendiri memang merupakan ungkapan dari pengalaman-pengalaman batin seseorang yang kemudian dituangkan melalui berbagai medium seni, yang akhirnya dapat kita nikmati sebagai sebuah mahakarya.&lt;br /&gt;Bagi seorang seniman, seperti Remy Sylado yang biasa juga ditulis dengan angka 23761 yang diambil dari chord pertama lirik lagu All My Loving karya The Beatles, berkarya adalah sebuah tantangan yang harus dilewati. Berkarya adalah menjawab tantangan dan memecahkan permasalahan-permasalahan yang timbul, baik permasalahan yang ada di dalam diri sendiri maupun berbagai permasalahan yang ada di luar diri.&lt;br /&gt;Keinginan-keinginan untuk memecahkan permasalahan itulah yang mengakibatkan kan seorang seniman berkarya dan terlihatlah bahwa setiap bentuk karya seni memuat unsur-unsur budaya. Kemudian dengan menggunakan berbagai ungkapan yang dipilihnya, maka lahirlah sebuah potret tentang kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kesenimanan Remy Sylado tak diragukan lagi. Budayawan yang berkecimpung dalam seni musik, seni rupa, sastra, dan teater ini membuat dirinya pantas menjadi salah satu seniman komplet yang digemari masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;Pada tahun 2002, sosok budayawan populer seangkatan dengan WS Rendra ini mendapat penghargaan Sastra Khatulistiwa untuk karya novelnya. Kemudian, pada tahun 2003 mendapat penghargaan Festival Film Bandung (FFB) sebagai aktor terpuji untuk aktingnya di film. Pada tahun yang sama, Remy meraih Anugerah Indonesia untuk karya-karya teater musikalnya.&lt;br /&gt;Tak hanya itu, pria kelahiran Makassar 12 Juli 1945 silam itu, tiga tahun kemudian (2006) juga berhasil memenangi anugerah sastra terbaik oleh Pusat Bahasa untuk novelnya. Serta, meraih penghargaan dari Istana Wakil Presiden sebagai satu-satunya kritikus musik dan Anugerah Satya Lencana Kebudayaan dari negara, karena kepeloporannya di bidang kesenian kontemporer.&lt;br /&gt;Dalam kariernya yang serbabisa, Remy Sylado pun sering didaulat menjadi pembicara kunci bidang sastra dan bahasa, di universitas-universitas di dalam dan luar Indonesia.&lt;br /&gt;Berikut, hasil wawancara seniman komplet yang bernama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong dengan SP, di kediamannya daerah Cipinang Muara, Jakarta, baru-baru ini.&lt;br /&gt;Bagaimana pandangan Anda terhadap budaya bahasa yang diasimilasi?&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia sebenarnya jangan harus dicurigai dan diharuskan menjadi bahasa asli Nusantara. Sebab, bahasa Indonesia sesuai namanya Indo, artinya dapat menyerap segala macam kosakata dari lintasan budaya yang masuk ke Indonesia.&lt;br /&gt;Jadi, harus selalu terbuka untuk menyerap, tapi sebelum menyerapnya harus disesuaikan dahulu dengan lafal kita. Lagi pula, itu hal biasa dalam sebuah bangsa yang modern. Namun, kita harus memiliki kesepakatan untuk menjaganya, supaya dapat mencapai tingkat yang mulia.&lt;br /&gt;Bagaimana cara melestarikan bahasa Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia dapat kita lestarikan lewat karya sastra, karena gawang bahasa dilihat dari kemampuan sebuah bangsa dapat menciptakan karya sastra. Pasalnya, penggunaan bahasa dalam karya sastra dinilai sebagai peranti yang paling asasi.&lt;br /&gt;Sejauh mana perkembangan karya sastra di kalangan anak muda?&lt;br /&gt;Saya nilai sudah maju. Itu terlihat dari banyaknya karya sastra yang ditulis dengan latar remaja yang lazim disebut teenlit. Saat ini, peluang untuk menjadi penulis sangat terbuka lebar, tidak seperti pada tahun 60-an. Dulu, untuk menjadi pengarang, orang harus melalui sebuah persyaratan yang sulit, layaknya melamar menjadi wartawan di media cetak. Kalau, sekarang kan sudah tidak lagi.&lt;br /&gt;Sekarang soal seni musik. Bagaimana menanggapi alat musik dan lagu tradisional yang diklaim milik bangsa lain?&lt;br /&gt;Kita harus melihat persolan itu dengan sedikit arif. Sebab, sebagian besar orang yang mengklaim itu adalah orang Indonesia yang menjadi imigran lalu menjadi warga negara sana. Mereka sudah tinggal di sana sejak tiga turunan dan sering dinyanyikan lagu Indonesia oleh neneknya, sehingga otomatis lagu ataupun alat musik itu menjadi satu kesatuan dengan bangsa tersebut. Jadi, janganlah kita terlalu panas melihat masalah itu.&lt;br /&gt;Apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya muncul lagi?&lt;br /&gt;Pemerintah harus secepatnya memasukkan kekayaan bangsa Indonesia ke dalam Undang-Undang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).&lt;br /&gt;Mengenai seni rupa, apa pengaruh teknologi terhadap perkembangan seni rupa, khususnya seni lukis?&lt;br /&gt;Semakin canggihnya teknologi yang mengakibatkan orang bisa mendesain dengan menggunakan komputer berdampak pada bermunculannya variasi-variasi baru dalam dunia lukis. Jadi, mau tidak mau, kita harus melihat itu sebagai perkembangan proses kebudayaan.&lt;br /&gt;Contohnya, dahulu orang bikin animasi hanya dengan menggambar di secarik kertas, namun sekarang bisa tiga dimensi dengan menggunakan komputer. Maka dari itu, kita harus melihatnya sebagai penemuan bentuk seni rupa baru, yaitu seni rupa yang bisa bergerak.&lt;br /&gt;Soal seni pertunjukan, kenapa dunia teater kita terkesan lambat berkembang?&lt;br /&gt;Menurut saya, itu disebabkan empat hal. Pertama, pola berpikir kita tentang teater di Indonesia, pada umumnya masih terbatas pada model tahun 50-an dan 60-an. Jadi, melihat cara mengucapkan intonasinya dianggap harus mengeluarkan urat nadi. Kedua, teater kita tidak bisa memasuki dunia orang membutuhkan. Maksudnya, kurang bisa menghadirkan tontonan yang baik dan bermutu.&lt;br /&gt;Ketiga, kurang ada kemauan dan juga keberanian dari para sineas teater untuk keluar dari model tahun 50-an dan 60-an, serta menyajikannya secara unik. Keempat, ada dilema yang muncul antara ingin menjadi teater Barat dan ke-indonesiaan.&lt;br /&gt;Bagaimana cara menumbuhkan teater?&lt;br /&gt;Sineas teater kita harus berusaha keras berpikir baru, supaya teater Indonesia dapat menjadi bagian yang dibutuhkan. Caranya, dengan menyajikan cara pertunjukan yang baru. Misalnya, seperti yang dilakukan sineas dalam menyajikan pertunjukannya di beberapa kafe di kota Paris atau disebut teater kafe.&lt;br /&gt;Selain itu, kita juga harus bisa memahami secara betul istilah modern teater tahun 50-an yang berorientasi pada sastra dan 70-an antara gagasan barat dan pola tradisonal, yang hanya sebatas pengertian kontemporer.&lt;br /&gt;Sementara di abad 21 ini. dengan hadirnya komputer, kita harus bisa memanfaatkannya secara optimal untuk mengembangkan pertunjukan teater moderen. Sehingga, pertunjukan itu mampu memberikan dua sisi hal yang menarik kepada penonton, yaitu sisi hiburan dan sisi kekayaan intelektual.&lt;br /&gt;Pewawancara: Lona Olavia&lt;br /&gt;Sumber: Suara Pembaruan, Minggu, 12 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-3045853448531891861?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/3045853448531891861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/07/seni-adalah-ungkapan-perasaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/3045853448531891861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/3045853448531891861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/07/seni-adalah-ungkapan-perasaan.html' title='[Profil] Remy Sylado: Berkarya = Tantangan yang Harus Dilewati'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-5606830220278888576</id><published>2009-07-29T13:04:00.001-07:00</published><updated>2009-07-30T20:31:56.120-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Adopsi Fakta Imajinatif Sastra</title><content type='html'>Oleh : Anjrah Lelono Broto, Litbang LBTI (Lembaga Baca-Tulis Indonesia&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Identitas Sastra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sastra sebagai sebuah teks yang sejajar dengan gambar, suara, maupun gerak memiliki roh yang multi-intrepretasi. Publik sebagai lembaga apresian independen bebas untuk mengintrepretasi pesan dan makna yang ada di dalamnya. Publik memahami secara dewasa bahwa sastra selain berangkat dari alam rekaan (fictional) serta alam permenungan (reflection), sastra dekat dengan identitas ketidakberpijakan atau imajinatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakberpijakan cenderung diapresiasikan publik sebagai kebohongan. Tidak berlebihan memang, karena di dalam sastra bahasa, tema, ataupun amanat bersifat personal, masing-masing individu memiliki keberagaman stilistika komunikasi yang cenderung membebaskan intrepretasi. Yang membedakan teks sastra dengan teks lain adalah kegenialan sastra untuk membuat pengakuan bahwa dirinya adalah aksioma fiksi, sedangkan teks-teks yang lain cenderung enggan untuk jujur bahwa sejatinya dirinya juga melakukan sebuah kebohongan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sastra dekat dengan identitas ketidakberpijakan, lantaran di dalam sastra ‘kebenaran’ disampaikan dengan bahasa teks imajinatif dan personal yang sarat dengan ‘pembenaran-pembenaran’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, di dalam ruang publik Indonesia sekat antara kebenaran dan ketidakberpijakan menjadi tipis, bahkan hilang. Publik tertatih-tatih untuk membedakan antara fakta dan opini, antara antara realitas dan imajinasi, antara kebenaran dan mimpi. Pengambil-alihan fungsi dan peran prosedural teks sastra oleh teks-teks yang lain ini memungkinkan mewabahnya dehumanisasi kolektif. Mengapa? Sastra yang multi-intrepretasi dan refleksional diadopsi habis-habisan oleh teks yang lain, ketika teks-teks tersebut kehilangan kesejatiannya maka publik terperosok dalam krisis kebenaran. Eksistensi menjadi samara, bahkan kabur, ketika kebenaran disampaikan secara imajinatif yang dapat dianalisis secara instrinsik maupun ekstrinsik, seperti halnya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publik membaca berita dan informasi yang dibungkus dalam teks gambar, suara, maupun gerak, seperti halnya membaca sebuah karya sastra. Publik menganalisis dan memahaminya menggunakan perspektif instrinsik maupun ekstrinsik. Bagaimana karakter tokohnya, temanya apa, alurnya bagaimana, settingnya dimana dan kapan, bahkan publik juga membaca ‘siapa’ yang memberitakan seperti halnya penikmat karya sastra memahami ‘siapa’ pengarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakekatnya, kebenaran dan ketidakberpijakan dalam sastra memang tak terbatas, keduanya membias bercampur-campur bagai larutan gula-garam yang dapat mengganti ion tubuh. Tatkala sastra disodorkan dalam meja sajian kepada publik, ia mampu berdiri menjadi seni, slogan, propaganda, moral, sains, atau ideologi. Begitulah sekarang yang terjadi dalam teks-teks yang lain. Publik bimbang mengapresiasi dan mencermati mana artis mana politisi, mana pemimpin mana selebritis, ataupun mana ideologi mana seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau teks sastra diapresiasi melewati permenungan refleksional lalu bagaimana dengan teks-teks berita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, pengadopsian identitas sastra oleh teks-teks yang lain ini meminggirkan posisi dan peran sastra itu sendiri. Ketika sebuah teks dijiplak tanpa keterangan sumber maka sumber akan terbenam dan publik akan rancu memahami teks itu sendiri. Radhar Panca Dahana, dalam bukunya Kebenaran dan Dusta dalam Sastra, menyatakan bahwa; jika hal di atas terjadi, maka sastra akan bernasib seperti kotak mainan anak, ia akan tergeletak di pojok, di atas lemari baju, atau teronggok di balik etalase barang elektronik; lusuh dan berdebu, terlupakan, tak terbeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah? Pertanyaan tersebut sebaiknya kita simpan rapat-rapat, karena realitas sudah menjawabnya. Publik meminggirkan jauh-jauh sastra dalam hidup dan berkehidupan sehar-hari. Bahkan lingkungan pendidikan, yang merupakan garda depan pengenalan sastra, dewasa ini cenderung mendewa-dewakan materialisme dan tidak memberi ruang nafas bagi sastra untuk anak didiknya. Sedangkan di lingkaran publik, secara global, jauh lebih ruaar biasa… Buku-buku sastra hilang dalam terang, dan sastrawan bertahan hidup dengan terpaksa melacur dalam hegemoni sastra koran. Pasca generasi sastrawan termuda seperti Joni Ariadinata, Benni Setiawan, Ayu Utami, Fira Basuki, Dee, ataupun Djenar Mahesa Ayu, tak ada lagi perwajahan baru. Sehingga, wajarlah jika kemudian ada maklumat kematian sastra terdengar di telinga publik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena pengadopsian identitas sastra oleh teks-teks yang lian yang mengakibatkan keterpinggiran sastra memang mengundang berbagai kontroversi pendapat dan asumsi. Akan tetapi, dalam riuh-rentak opini dan penawaran solusi yang berkembang ada sebuah hikmah yang bisa dipetik yaitu mengemukanya kesejatian humanitas Indonesia bahwa manusia memang menjalani sebuah proses untuk menemukan dirinya sendiri dan menyempurnakan pemahaman atas dunia. Kebenaran dan ketidakberpijakan sastra memang laksana pedang bermata dua, mampu menggoda pengadopsian namun secara kejam dapat membuat degradasi keberhargaan sastra itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dunia Imajinasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karya sastra adalah dunia imajinasi ditata sebagai semesta. Dalam penataannya, tak hanya akal-budi namun juga kearifan dan kesegaran jasmani yang berperan. Realitas yang ada dan terbangun dalam karya sastra tidak mampu diterjemahkan dalam tata bahasa formal keseharian, sebagaimana perkawanan dan perkawinan perjalanan material dan spiritual yang takkan pernah terdefinisikan secara menyeluruh. Kesejatian identitas karakter inilah yang membedakan karya sastra dari teks-teks yang lain seperti teori penelitian, jurnalistik populer, historiografi, atau aforisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini menuntut seorang penikmat karya sastra memiliki ancangan ke’dirian’ pribadi untuk mengapresiasi karya sastra. Karena, proses pemahaman terhadap sebuah teks sastra berjalan dalam sebuh proses (not instanable), melalui rekonstitusi dan rekonstruksi manusia secara menyeluruh. Pemikiran tentang rekonstruksi manusia secara menyeluruh akan menjadi menarik apabila lebih dikaji secara mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali juga merupakan sebuah objek kajian yang menarik dan penuh gelitik, apabila kita bersedia membaca kembali rekonstruksi sebuah karya sastra, misalnya naskah Perang Bubat, Panembahan Reso, Hamlet, atau naskah-naskah repertoar Kabuki seperti Love Suicides at Sonezaki, Blossom In The Wind, dll. Mungkin, jikalau dianggap terlalu jauh bisa kita baca kembali naskah repertoar Ludruk seperti Sarip Tambak Oso, Sakerah, ataupun Sogol; Arek Sumur Gumuling, dst. Hampir semua naskah-naskah karya sastra tersebut memiliki keterkaitan dengan teks sejarah. maka teks sejarah menempati posisi yang vital dalam membangun pesan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks sejarah Perang Bubat merupakan satu contoh teks sejarah yang banyak mengalami rekonstruksi dari pengarang dari kultur wilayah yang berbeda, terutama Jawa dan Sunda. Teks Perang Bubat sebagai teks sejarah ini ketika ditransfer ke dalam teks sastra akan menjadi naskah karya sastra yang penuh deng rekonstruksi si pengarang, yang mungkin bergeser dari fakta sejarah atau yang belum terungkap oleh sejarah itu sendiri. Rekonstruksi Perang Bubat dalam bentuk teks sastra menjadi menarik karena di dalamnya melibatkan aspek emosi ras, etnik, dan kultural yang berbeda yaitu Sunda dan Jawa. Teks sejarah mencatat bahwa kerajaan Padjajaran mengalami kemunduran dan menghilang pasca peristiwa berdarah di lapangan Bubat. Peristiwa yang merenggut nyawa Sri Baduga Maharaja dan Dewi Pitaloka ini meninggalkan kepahitan dan dendam kultural antara Jawa dan Sunda. Masyarakat Sunda mempercayai bahwa Kerajaan Pajajaran tidak musnah atau dikuasai Majapahit melainkan berpindah ke alam lain; “Padjajaran hanteu sirna tapi tilem ngawun-awun”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian hadir berbagai persoalan khususnya yang menyangkut posisi sebuah karya sastra itu sendiri di tengah rekonstruksi yang demikian, juga tanggung jawab seorang pengarang, dan kesiapan seorang pembaca, apakah masih menganggap naskah seperti itu sebagai karya sastra manakala di dalamnya terjalin rangkaian dialog antartokohnya sebagai hasil rekonstruksi pengarang, serta posisi ‘dusta’ dan ‘kebenaran’ yang bukan lagi bergerak dalam batas-batas realitas antara sesuatu yang bersifat empiris dan imajis, melainkan sudah melibatkan aspek-aspek subjektivitas pengarang dengan segala bentuk konsekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kearifan publik sebagai lembaga apresian independen menuntun pemahaman bahwa karya sastra bisa menjadi kebohongan dan kebenaran. Kearifan akan membimbing publik untuk membedakan antara fakta yang sesungguhnya dan ‘fakta’ hasil imajinasi atau rekonstruksi seorang pengarang, yang menlahirkan karya sastra berisi transformasi kesejarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekonstruksi naskah sejarah ke sastra dipandang sebagai sebuah ‘dusta’, manakala aspek-aspek individualisme, bahkan –komunalisme– telah berlaku di dalamnya. Di situ kita memahami bagaimana posisi ‘kebenaran’ naskah sebagai sejarah yang diyakini kebenarannya, dan bagaimana posisi ‘dusta’ dalam naskah sejarah itu sendiri yang telah mengalami rekonstruksi. Sebuah ‘dusta’ yang sesungguhnya berada di luar keberadaan sebuah karya sastra karena terkait dengan latar belakang pengarang. Dan seorang pembaca, kiranya perlu untuk tahu keberadaan posisinya, bukan hanya berpegangan pada aspek-aspek individual atau komunal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-5606830220278888576?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/5606830220278888576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/07/oleh-anjrah-lelono-broto-litbang-lbti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/5606830220278888576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/5606830220278888576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/07/oleh-anjrah-lelono-broto-litbang-lbti.html' title='Adopsi Fakta Imajinatif Sastra'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-3066635744165258774</id><published>2009-07-29T12:32:00.000-07:00</published><updated>2009-07-29T12:58:33.032-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Dekonstruksi Derrida, Menghancurkan Sekaligus Membangun</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.filmforum.org/archivedfilms/derrida/derridaimagelogo.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="142" src="http://www.filmforum.org/archivedfilms/derrida/derridaimagelogo.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Derrida dilahirkan pada tanggal 15 Juli 1930 di El Biar, Aljazair dan meninggal di Paris, Perancis tanggal 8 Oktober 2004 –Karena itu Derrida lebih dikenal sebgai filosof Perancis daripada filosof Aljazair. Filsuf ini secara terang-terangan telah mengkritik filsuf Barat, terutama kritik dan analisis mengenai bahasa “alam”, tulisan, dan makna sebuah konsep. Dekonstruksi, alat yang digunakan untuk meruntuhkan konsep-konsep dan deskripsi-deskripsi kita selama ini. Saya akan memulai penjelasan mengenai konsep dekonstruksi dengan memberikan sebuah contoh dari implementasi dekonstruksi sederhana. Anda pasti tahu Batman ?? Seorang pahlawan dari kota Gotham, yang diciptakan oleh ilustrator Amerika, Bob Kane, pada tahun 1938. Batman berbeda dengan Superman. Jika Superman menegakkan kebenaran dan keadilan yang dilandasi semangat cinta dan keikhlasan, maka sebaliknya Batman –dengan tangan kosong- menegakkan kebenaran setelah kedua orangtuanya dibunuh, –yang tidak lain- dapat saya katakan jika Batman memulai “kariernya” itu dengan melakukan pembalasan dendam. Nah, kepada Batman inilah, terminologi Derrida dapat diterapkan, Batman telah “mendekonstruksi” konsep pahlawan selama ini. Konsep pahlawan yg selama ini dianggap sesuatu pekerjaan tulus, tanpa latarbelakang “pembalasan dendam” yang mendasarinya, didekonstruksi oleh Batman. Secara singkat, ia mendekonstruksi konsep yang selama ini kita terima sebagai sesuatu yang sudah jelas dan baku dihadapkan dengan antitesisnya. Jadi, bukan hanya kemalangan atau kekejaman yang ternyata diperlukan untuk menyediakan peluang bagi heroisme, namun juga kualitas2 inheren di dlaam tindak kepahlawanan –sama seperti ketika Batman menggunakan kekerasan untuk mengalahkan musuh yang hendak menuntut keadilan kepadanya, seperti Joker.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dekonstruksi, secara garis besar adalah cara untuk membawa kontradiksi-kontradiksi yang bersembunyi di balik konsep-konsep kita selama ini dan keyakinan yang melekat pada diri ini ke hadapan kita. Tanpa adanya Joker, konsep kepahlawanan Batman akan absurd. Ia hanya akan menjadi makhluk freaky yang konyol; bersembunyi dalam kostum anehnya jika tanpa keberadaan si Joker. Terapan ilmu ini jauh lebih sulit dari penjelasannya. Bahkan, karena teori ini sulit untuk dimengerti, timbul banyak kontroversi dan kritik terhadapnya. Toh, tetap saja Derrida menanggapi hal tersebut dengan santai, bahkan ia mengatakan, “Tak seorang pun pernah marah pada matematikawan atau seorang dokter yang tidak dipahaminya sama sekali atau kepada seseorang yang berbicara dengan sebuah bahasa asing. Tetapi, mengapa kita nampaknya selalu meminta filsuf untuk berbicara secara “mudah” dan bukanny kepada para ahli-ahli tersebut yang bahkan lebih susah lagi untuk dipahami oleh pembaca yang sama ?”. Kesulitan ini lebih bermuara pada gaya prosanya yang sulit untuk ditembus.&lt;br /&gt;Derrida memang mengakui jika Dekonstruksinya sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata biasa. Karena, menurutnya, Dekonstruksi telah mengubah struktur pemahaman terhadap kata-kata yang tidak mampu menerangkan secara eksplisit subjek yang menjadi acuannya. Singkatnya, konsep dekonstruksi tidak didefinisikan secara cocok. Derrida sendiri pernah menulis mengenai konsep dekonstruksi ini pada Profesor Izutzu di Jepang pada tanggal 10 Juli 1983, demikian isinya :Dekonstruksi bukan suatu metode dan tidak dapat dibuat menjadi metode apapun…..Benar bahwa dalam mazhab-maxhab tertentu (universitas maupun budaya, khususnya di Amerika Serikat) “metafora” teknis dan metodologis yang dianggap dapat mendekati arti kata “dekonstruksi” ternyata malah merusak atau menyesatkannya saja….Tidak cukup juga bila dikatakan bahwa dekonstruksi tidak dapat direduksi menjadi suatu instrumen metodologis atau memberikan padanya serangkaian aturan dan prosedu-prosedur yang dapat disediakan. Tidak juga dapat diklaim bahwa setiap “peristiwa” dekonstruktif tetap tunggal atau, dalam kasus tertentu, sedekat mungkin pada sesuatu layaknya sebuah idiom atau sebuah tanda tangan. Juga harus diperjelas bahwa dekonstruksi bukan sebuah aksi maupun operasi.”Membingungkan ? Mengenai ini, Derrida menganalogikan Dekonstruksi dengan sebuah contoh dari sejarah filsafat di dalam cerita Phaedrus. Katanya, Plato menceritakan menceritakan mitos mengenai seorang raja Mesir Thamus yang ditawari oleh dewa Thoth kreasinya yang berupa tulisan. Tetapi, Thamus menolaknya. Ia menilai jika tulisan lebih mempunyai banyak potensi bahaya melebihi manfaatnya bagi manusia. Memang, tulisan dapat menawarkan sebuah ingatan kultural dan intelektual yang semakin sulit dikalahkan oleh waktu –yang melebihi penurunan informasi secara turun-temurun melalui tradisi oral. Tetapi karena kemudahan untuk menyerap informasi dari tulisan inilah, maka kemampuan memori manusia mulai merosot. Guru-guru mulai menjadikan buku (tulisan) sebagai penuntun bagi murid-muridnya –di mana tanpa mereka, murid-murid dapat mengalami misinterpretasi terhadap apa yang telah diajarkan oleh gurunya. Dengan adanya buku, maka perlahan-lahan saksi paternal dan budaya saling menyayangi dari guru ke murid akan mulai pudar. Hal inilah –sebenarnya- yang menjadi esensi dan pengetahuan sejati yang diturunkan oleh seorang guru terhadap muridnya -karena guru yang dewasa dan bijaksana secara sejati, memiliki otoritas yang lebih besar daripada tulisan dan tinta, dan dapat menurunkan kedua faktor di atas kepada muridnya. Tulisan hanya akan menjadikan metode pembelajaran sekedar sebagai metode penghafalan, peralatan mekanis untuk menciptakan simulakrum pengetahuan. Bahkan, kata Derrida, Barat sering mencurigai mereka yang mempelajari segala sesuatu dari buku, seolah-olah buku mampu menyingkapkan dan mengungkapkan pengetahuan yang sejatinya tidak mereka pahami. Derrida berpendapat jika pengistimewaan ucapan di atas tulisan seperti ini merupakan prasangka endemik dalam tradisi filsafat dan agama Barat. Derrida melihat jika Plato dalam Phaedrus jatuh dalam metafora-metafora yang ada dalam praktik penulisan. Hal-hal yang dianggap positif dalam cerita –seperti ucapan, memori hidup, dan kehadiran guru- didefinisikan berdasarkan perbedaan kontrasnya dengan hal-hal yang mengancam mereka. Ucapan, contohnya, bukan sesuatu yang berbeda secara fundamental dengan tulisan, melainkan hanya representasi dan semacam tulisan “yang baik”, yang tertulis dalam “jiwa para siswanya”. Plato dapat menggunakan berbagai macam metafora untuk menjelaskan filsafatnya, tetapi tanpa metafora sekalipun, tetap saja, menurut Derrida mereka setara dengan membaca teks belaka. Mudahnya, bagaimana tulisan dapat mengunci dengan kuat bunyi/kata yang keluar dan mereka ucapkan ? Derrida menolak anggapan jika makna mempunyai korespondensi ideal antara bunyi sebuah kata dengan subjek dan makna yang dikandungnya. Menurut Derrida, relasi merupakan objek yang arbiter, yang berubah-ubah menurut waktu. Pendekatan dekonstruktif lebih menyoroti isi teks agar ia dapat menyingkapkan makna yang seharusnya literal namun telah termanifestasi ke dalam berbagai metafora maupun perwujudan kata-kata. Tujuan dekonstruksi bukan utk menjembatani dua jurang yang ada itu –antara kata dan makna-, melainkan hanya utnuk menunjukkan jika jurang itu memang sudah seharusnya ada dan tidak dapat dielakkan lagi.Saya dapat memberikan contoh yang sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, Anda menganggap agama yang Anda anut merupakan sebuah “agama sempurna”. Jika suatu hari Anda/orang lain tiba-tiba mempertanyakan salah satu bagian agama itu, atau bahkan mungkin meragukannya, maka Anda harus mempertimbangkan kembali kesempurnaan agama Anda itu. Setidaknya, Anda harus kembali mendefinisikan konsep sempurna itu, karena bagaimana pun, konsep kesempurnaan agama Anda itu sudah menjadi tidak sempurna lagi. Konsep yang tidak sempurna inilah yang menjadi satu-satunya konsep yang Anda miliki, karena pada waktu yang bersamaan akan selalu ada kemungkinan bagi sebuah pemaknaan bahwa agama Anda itu ternyata bukanlah “agama sempurna”. Menurut dekonstruksi, kita tidak akan dapat mencapai titik definitif dari konsep-konsep kita. Sama halnya jika Anda berdebat mengenai penyebab dan efek kebakaran. Anda menduga-menduga kapan api itu menjalar (penyebabnya) atau efeknya. Namun setelah Anda merenungkannya sejenak, akan didapati jika perbedaan antara “sebelum” dan “setelah” tersebut terdiri dari satu titik yang terlalu sukar utnuk dipadatkan dan dibagi menjadi 2 (menjadi “sebelum” dan “sesudah”). Ini juga berlaku pada kata-kata, ia terlihat sarat makna jika terdengar di telinga, tetapi tiba-tiba ia seolah-olah hanya menjadi sekam saat ktia jumpai di KBBI, ketika maknanya lenyap ditelan oleh metafora dan sinonim-sinonim belaka. Tetapi, nilai penting dari karya Derrida ini terletak pada kemampuannya untuk membuat kita melihat jejak dari apa yang telah terabaikan dari konsep dan deskripsi kita karena kelemahan-kelemahan ini merupakan satu entitas yang menjadi kesatuan, yang mengakibatkan mereka tidak mustahil untuk ada dan eksis. Dekonstruksi mengajarkan kita untuk memikirkan dan merenungkan lagi dasar, praktik, konsep, dan nilai kita. Apapun itu, setelah kita menggunakan dekonstruksi, pandangan kita tidak akan menjadi terlalu dogmatis atau fanatis, bahkan akan menjadi lebih murni dan jernih.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-3066635744165258774?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/3066635744165258774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/07/dekonstruksi-derrida-menghancurkan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/3066635744165258774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/3066635744165258774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/07/dekonstruksi-derrida-menghancurkan.html' title='Dekonstruksi Derrida, Menghancurkan Sekaligus Membangun'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-2263361530908991656</id><published>2009-07-27T16:27:00.001-07:00</published><updated>2009-09-13T11:38:17.135-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rubrik cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi'/><title type='text'>Tipe-Tipe Cinta</title><content type='html'>Definisi cinta selalu berbeda bila manusia berupaya membatasinya dalam kata-kata. Cinta adalah keabsurdan abadi yang hanya akan dapat dirasakan ketika sudah lepas dari raga. Cinta dalam keabadian adalah hakekat cinta yang dicari manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bentuk upaya mengenali cinta yaitu memilah karakteristik cinta pada manusia . Ada 6 tipe cinta manusia yang boleh setuju boleh juga membuat sendiri sesuai selera. Karena tipe-tipe di bawah ini lebih nyrempet pada definisi cinta yang tergoda syahwat antara 2 jenis manusia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Eros (cinta romantik)&lt;br /&gt;- Cinta pada pandangan pertama&lt;br /&gt;- Daya tarik jasmaniah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mania (cinta memiliki)&lt;br /&gt;- Mudah sekali cemburu&lt;br /&gt;- Sangat terobsesi dengan orang yang dicintai&lt;br /&gt;- Bergantung pada orang yang dicintai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Storge (cinta persahabatan)&lt;br /&gt;- Dimulai dari persahabatan, saling berbagi, saling mengungkapkan secara bertahap&lt;br /&gt;- Sangat bijaksana, hangat dan sarat persudaraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pragma (cinta pragma)&lt;br /&gt;- Menuntut adanya pasangan serasi dan hubungan yang berjalan baik&lt;br /&gt;- Dapat memuaskan kebutuhan dasar dan praktis mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Agape (cinta altruistic)&lt;br /&gt;- Perhatian&lt;br /&gt;- Keinginan memberikan sesuatu&lt;br /&gt;- Siap memaafkan pasangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ludus (cinta main-main)&lt;br /&gt;- Memiliki lebih dari satu cinta dalam satu saat&lt;br /&gt;- Berakhir bila pasangan mulai bosan atau menjadi terlalu serius&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-2263361530908991656?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/2263361530908991656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/07/definisi-cinta-selalu-berbeda-bila.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/2263361530908991656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/2263361530908991656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/07/definisi-cinta-selalu-berbeda-bila.html' title='Tipe-Tipe Cinta'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-6810094866450482226</id><published>2009-06-04T08:22:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T12:03:13.247-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kearifan lokal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Konsep Ajaran Masyarakat Samin</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fCQLE1LQOa8/Sifp_AI7WZI/AAAAAAAAABU/KWafUjtr8sE/s1600-h/samin.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343496751476857234" src="http://1.bp.blogspot.com/_fCQLE1LQOa8/Sifp_AI7WZI/AAAAAAAAABU/KWafUjtr8sE/s400/samin.jpg" style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Samin (Saminisme) yang disebarkan oleh Samin Surosentiko (1859-1914), adalah sebuah konsep penolakan terhadap budaya kolonial Belanda dan penolakan terhadap kapitalisme yang muncul pada masa penjajahan Belanda abad ke-19 di Indonesia. Sebagai gerakan yang cukup besar Saminisme tumbuh sebagai perjuangan melawan kesewenangan Belanda yang merampas tanah-tanah dan digunakan untuk perluasan hutan jati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok ajaran Samin adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;* Agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dlam hidupnya.&lt;br /&gt;* Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka irihati dan jangan suka mengambil milik orang.&lt;br /&gt;* Bersikap sabar dan jangan sombong.&lt;br /&gt;* Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama dengan roh dan hanya satu dibawa abadi selamanya.Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, namun hanya menanggalkan pakaiannya.&lt;br /&gt;* Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur dan saling menghormati. Berdagang bagi orang Samin dilarang karena dalam perdagangan ada unsur “ketidakjujuran”. Juga tidak boleh menerima sumbangan dalam bentuk uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengikut ajaran Samin mempunyai lima ajaran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* tidak bersekolah,&lt;br /&gt;* tidak memakai peci, tapi memakai "iket", yaitu semacam kain yang diikatkan di kepala mirip orang Jawa dahulu,&lt;br /&gt;* tidak berpoligami,&lt;br /&gt;* tidak memakai celana panjang, dan hanya pakai celana selutut,&lt;br /&gt;* tidak berdagang.&lt;br /&gt;* penolakan terhadap kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Ajaran Masyarakat Samin masuk dalam kategori Budaya Masyarakat Samin : Keseimbangan , Harmonisi , dan Kesetaraan Keadilan. Adalah prinsip dan falsafah hidup Masyarakat Samin tetap diyakini sampai saat ini. Dengan Tradisi Lisan menjaga Budaya dan Tradisi Lisan kepada generasi dan keturunan tingkat ke 4 adalah suatu hal yang perlu mendapatkan penelitian, yang berlanjut kepada pengakuan akan keberadaan Masayarakat Samin yang mempunyai kekhasan dalam bersikap dan bertindak. Masyarakat statis menjaga tradisi untuk kelanggengan keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Disaring dari berbagai sumber**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-6810094866450482226?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/6810094866450482226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/06/sejarah-singkat-saminisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/6810094866450482226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/6810094866450482226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/06/sejarah-singkat-saminisme.html' title='Konsep Ajaran Masyarakat Samin'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fCQLE1LQOa8/Sifp_AI7WZI/AAAAAAAAABU/KWafUjtr8sE/s72-c/samin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8884505091942203835.post-3052935042676063930</id><published>2009-06-03T13:51:00.000-07:00</published><updated>2009-07-31T11:36:47.442-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fCQLE1LQOa8/SifyOKruuAI/AAAAAAAAABc/tdgn9os_4ng/s1600-h/aaaaaaa.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 202px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fCQLE1LQOa8/SifyOKruuAI/AAAAAAAAABc/tdgn9os_4ng/s320/aaaaaaa.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343505808098244610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Secara&lt;/span&gt; defenitif stukturalisme genetik adalah analisis struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal-usul karya (Ratna, 2004: 123). Strukturalisme genetik ditemukan oleh Lucien Goldmann, seorang filsuf dan sosiolog Rumania-Perancis. Teori tersebut dikemukakan dalam bukunya yang berjudul The Hidden God: a Study of Tragic Vision in the Pensees of Paskal and the Tragedies of Racine (Ratna, 2004: 121-122). Goldmann percaya bahwa karya sastra merupakan suatu struktur, inilah yang terkandung dalam pengertian strukturalisme. Tetapi struktur itu bukanlah suatu yang statis, melainkan dinamis karena merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung yang dihayati oleh masyarakat dimana karya sastra itu berada. Sedangkan istilah genetik mengandung pengertian bahwa karya sastra itu mempunyai asal-usulnya ( genetik ) di dalam proses sejarah atau masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;  Lebih jauh Goldmann dalam Faruk (2003: 12) membangun seperangkat kategori yang saling bertalian satu sama lain untuk menopang teorinya tersebut sehingga membentuk apa yang disebutnya strukturalisme genetik. Beberapa konsep dasar yang dikemukakan oleh Goldmann yang berkaitan untuk membentuk strukturalisme genetik tersebut antara lain : fakta kemanusiaan, pandangan dunia, struktur karya sastra, dialektika pemahaman-penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktifitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Fakta itu dapat berwujud aktivitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi kultural seperti filsafat, seni rupa, seni musik, seni patung, dan seni sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Subjek kolektif atau trans-individual merupakan konsep yang masih sangat kabur. Subjek kolektif itu dapat berupa kelompok kekerabatan, kelompok sekerja, kelompok teritorial, dan sebagainya. Subjek kolektif itulah yang merupakan subjek karya sastra yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Pandangan dunia. Yang dimaksud pandangan dunia adalah hubungan antara struktur karya sastra dan struktur masyarakat merupakan hubungan yang dimediasi oleh ideologi masyarakat. Pandangan dunia merupakan istilah yang cocok bagi kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan, yang menghubungkan secara bersama-sama anggota-anggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannya dengan kelompok-kelompok sosial yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Struktur karya sastra. Dalam konteks strukturalisme genetik, konsep struktur karya sastra  berbeda dari konsep struktur yang umumnya dikenal. Konsep struktur dalam struktualisme lebih bersifat tematik. Yang menjadi pusat perhatiannya adalah relasi antar tokoh dengan tokoh dan tokoh dengan objek yang ada di sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Dialektika pemahaman-penjelasan. Sudut pandang dialektik mengukuhkan perihal tidak pernah adanya titik awal yang secara mutlak sahih. Oleh karena itu, dalam sudut pandang dialektik tersebut pikiran tidak pernah bergerak seperti garis lurus. Sehubungan dengan itu, metode dialektik mengembangkan dua konsep, yaitu keseluruhan-bagian dan pemahaman-penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR RUJUKAN&lt;br /&gt;-Faruk. 2003. Pengantar Sosiologi Sastra (Dari Strukturalisme Genetik sampai Posmo  Modernism). Jakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;-Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8884505091942203835-3052935042676063930?l=www.toak.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.toak.co.cc/feeds/3052935042676063930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/06/strukturalisme-genetik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/3052935042676063930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8884505091942203835/posts/default/3052935042676063930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.toak.co.cc/2009/06/strukturalisme-genetik.html' title='Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann'/><author><name>Toak Blog "sebuah catatan malas"</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883209970678393994</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-KOI6xFeAyTM/TWqNNXBWqgI/AAAAAAAAANs/gphRH3vizY8/s220/25740_1234347309324_1548421895_30500428_8196183_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fCQLE1LQOa8/SifyOKruuAI/AAAAAAAAABc/tdgn9os_4ng/s72-c/aaaaaaa.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
